Monday, September 17, 2012

Kidung Rumekso Ing Wengi


AURA MISTIS DALAM KIDUNG RUMEKSO ING WENGI
Oleh: Sigit Tri Wicaksono
Rois Suriyah PCI NU Taiwan

“Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno”
……………………


Bagi orang jawa (kejawen), tentu tidak asing dengan syair (tembang) diatas. Menurut kepercayaan kejawen, jika tembang di atas dibaca ditengah malam apalagi suasana cukup mendukung, sunyi dan agak gelap disertai wewangian kemenyan/dupa, maka pembacanya akan merasakan sensasi atau aura ghoib yang segera menyapanya. Dan menurut pengalaman para pelaku mistis, biasanya ketika mendendangkan tembang tersebut aura ghoib terasa melingkupi di sekitar tubuh, dan bulu kuduk akan berdiri lalu tubuh akan merasa merinding.
Makna bebas dari tembang diatas kurang lebih demikian:
Ada sebuah syair/lagu  yang dapat menjaga manusia di malam hari. Energinya kuat dan menyelamatkan, semoga yang mendendangkannya dapat terhindar dari berbagai macam penyakit dan berbagai macam malapetaka. Jin, Setan tidak (akan) mau mengganggu. Sihir/tenung/santet tidak ada yang berani (dapat mengenai), Maupun perbuatan jahat lain. Guna-nuna akan meleset, Api (akan sirna karena) tersiram air(khasiat tembang tersebut).Pencuripun akan menjauh dan tidak ada yang mendekat.
Guna-guna yang ditanam akan sirna…..

Syair tersebut adalah bait pertama dari tembang macapatDandang Gula” karya kanjeng Sunan Kalijogo dari keseluruhan tembang yang berjumlah lima bait yang berjudul KIDUNG RUMEKSO ING WENGI. Keseluruhan tembang ini mengandung doa keselamatan secara umum, dengan bertawashul pada kemuliaan para Nabi dan Rasul, serta khulafaur-rashyidin dan auliya (para wali).
Sebenarnya kalau diperhatikan dengan seksama, melalui tembang ini Sunan Kali Jaga bermaksud mengajarkan dan mengajak manusia agar terjaga dimalam hari, lalu kemudian melakukan ritual ibadah dan melantunkan tembang (yang dimaksud adalah melakukan Qiyamul-lail dan melantunkan ayat-ayat ALLAH SWT). Karena ritual dimalam hari memiliki fadhilah yang luar biasa dan kesan khusus yang dapat menggetarkan hati sebagaimana termaktub dalam Alqur’anul Kariim berikut ini.
Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkanlah (pula) aku secara benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuatan yang menolong. Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS 17 Al-Isro’: 79-82).
“Dan bangunlah (untuk qiyamul-lail) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (QS 73 Al-Muzammil : 2-6).
Itulah konsep yang hendak dikenalkan kepada masyarakat jawa. Hanya saja waktu itu, bahasa arab sangatlah asing ditelinga orang jawa, maka Kanjeng Sunan Kali Jaga menggubahnya menjadi syair sebuah tembang jawa yang syarat dengan pesan dan makna spiritual. Sungguh pemikiran yang sangat cerdas dan intuitif dalam melihat peluang dakwah. Beliau mampu membaur dengan masyarakat namun mampu berbeda (mukhtalithun walakin mutamayyiziin).
Namun sayangnya, pesan dan makna dibalik tembang tidak dipahami oleh masyarakat secara utuh. Hanya beberapa saja yang memahami lalu kemudian ter-“shibghah” (terwarnai) dengan hidayah ALLAH akhirnya sadar dan menjadi orang-orang yang taat dan sholih. Tapi, banyak juga yang hanya memahami tembang itu sebagai tembang yang memiliki kekuatan magis tanpa memahami hakekatnya (persis seperti orang memahami bahwa seni untuk seni, ilmu untuk ilmu, hidup untuk hidup dsb.). Sehingga, tidak sedikit pula orang yang tersesat lantaran tembang tersebut, dan tak sedikit pula orang yang tersesat dalam memahami hakekat seni, ilmu dan hidup. Persoalannya bukan pada materi yang terkandung dalam tembang itu sendiri, tapi kegagalan meng-kontekstualkan maknanya. 
Nah, terkait dengan hal-hal yang sifatnya mistis, magis atau ghoib yang ditimbulkan oleh tembang tersebut, sering kali masyarakat awam terkecoh dengan bermacam-macam pemahaman yang berkembang disekitarnya. Hal ini disebabkan tiga hal antara lain; kurang komprehensif (lengkap)nya informasi mengenai masalah ghoib tersebut, kurangnya ilmu atau referensi yang dimiliki, keinginan (nafsu) yang menggebu untuk meraih apa yang diinginkan secara instan. Ketiga hal itulah sebagai pembangun pemahaman yang fundamental. Kegagalan dalam tiga hal tersebut akan berdampak pada kegagalan meng-kontekstualisasikan pemahaman terhadap masalah ghoib dalam kehidupannya. Walhasil, keimanannya akan menjadi goyah dan dipertaruhkan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Contoh kongkretnya, ketika seseorang pedangang ingin mendapatkan keuntungan dari dagangannya, sementara ilmu untuk berdagang kurang (termasuk pengetahuan untuk mencari kemungkinan peluang dan strategi yang logis dan syar’i juga terbatas), didukung dengan pemahaman tentang masalah ghoib yang sangat kurang, plus keinginan dan dorongan nafsu untuk mendapatkan keuntungan yang besar secara instan sangat kuat. Maka, kemungkinannya adalah dia akan berbuat curang, atau ia akan pergi ke dukun penglaris. Tentu masih banyak orang-orang yang semacam ini dimasyarakat kita. Bahkan mereka menganggap bahwa pergi ke dukun, paranormal, orang “pintar” atau sejenisnya adalah bagian dari ikhtiar atau usaha untuk menggapai kesuksesan. Dan menganggap bahwa dukun atau paranormal memiliki karomah yang dapat membantu mereka dalam menyelesaikan masalah, salah satunya adalah melakukan ritual mistis dengan melantunkan tembang diatas dikesunyian malam untuk memanggil “roh halus” guna dimintai pertolongan.
Nah, ada informasi yang terputus (atau memang orang awam tidak berusaha mencari bagian yang terputus itu) antara pesan yang hendak disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga pada masyarakat Jawa melalui tembang tersebut. Sehingga, seharusnya spirit atau semangat menghidupkan malam dengan Qiyamul-lail dan bacaan Al-qur’an itulah yang diamalkan, sehingga mampu menjadi penjaga malam, penawar/obat bagi yang sakit, pembuka pintu rejeki, penolak bala’, menenangkan hati yang gundah, meneguhkan kedudukan dan izzah orang-orang muslim. Akan tetapi, yang tertinggal hanyalah aura mistis yang diciptakan sendiri dengan menanggalkan pesan spiritual yang mendalam dari sang Kanjeng Sunan. Maka, tak bisa dipungkiri lagi jika kemudian Syetan dan Jin kafir benar-benar menjadikkannya teman dan sarana untuk ber-khalwat untuk meminta bantuannya. Akhirinya, manusia yang menjadikan Jin dan Syetan sebagai teman dan penolongnya (termasuk dukun dan paranormal), ia akan tertipu dan semakin tersesat sejauh-jauhnya.
“…..Sesungguhnya mereka (orang-orang yang tersesat) menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk” (QS 7:30)
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS 72:6)
Wallahu ‘alamu bish-showab.

No comments:

Post a Comment