Monday, August 15, 2011

IDUL FITRI : Pandangan Futuristik meraih Kesuksesan Hidup Dunia - Akhirat


Kita masih ingat ketika kita berusia balita sekitar 5 tahun atau barangkali juga masih berlaku bagi balita sekarang dan bahkan hingga sampai kapanpun, ketika ditanya “besok mau jadi apa?” atau dengan model pertanyaan yang lain “cita-citanya apa ?”. Maka dengan penuh percaya diri, kita yang waktu itu masih balita akan menjawab, “dokter”, atau mungkin menjawab “polisi”, “pilot”, “guru” dan lain sebagainya. Itulah gambaran fitroh manusia yang senantiasi mendambakan kesuksesan dalam kehidupannya, siapapun dia. Demikian pula ketika kita kemudian mulai beranjak dewasa dan mulai mengerti tentang makna sebuah kehidupan, kita akan tetap bercita-cita untuk menjadi menjadi orang yang sukses, sukses dalam urusan belajar, sukses dalam kekayaan, sukses dalam membina keluarga, sukses dalam segala hal.
Bagi sebagian orang, kesuksesan diartikan dengan tercapainya segala apa yang diinginkan dalam kehidupan di dunia ini, titik. Sehingga ia akan berusaha bekerja dengan sangat keras, tanpa kenal lelah tanpa mengenal batasan-batasan baik-buruk, pantas-tidak pantas atau bahkan sangat mungkin juga mengabaikan batasan halal-haram. Orang semacam ini jelas tidak mengenal hakekat kesuksesan hidup. Definisi kesuksesannya sangat sempit, hanya terkurung dalam “domain dunia”. Bagi sebagian orang yang lain (orang-orang yang beriman), kesuksesan hidup itu bermakna sangat luas, tidak hanya terbatas dalam ‘domain dunia” tapi juga mencakup “domain akhirat”. Dengan demikian orang yang beriman akan melangkah dengan hati-hati. Disamping dia akan bekerja dengan sangat keras tapi juga terikat oleh batasan-batasan yang ketat, terutama mengenai batasan halal-haram, dia juga meletakkan harapan yang luar biasa (optimistis) akan mendapatkan kesuksesan.
Pernahkah kita merenungkan, bahwa apakah manusia akan dapat meraih semua yang dicita-citakan?? Allah SWT menjawab dalam Alqur’an surat Annajm: 24-25. ”Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia”. Bahwa, Allah SWT sajalah yang menentukan seseorang itu berhasil atau gagal, sukses atau tidak. Untungnya, Allah SWT Maha Pemurah, Maha Adil dan Maha Kasih Sayang, Dia memperlakukan manusia dengan sangat adil sesuai dengan kehendak-Nya. Bagi siapa saja yang mau bekerja keras, akan diberikannya imbalan yang setimpal tanpa pandang bulu. QS Huud : 15Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Bagi orang yang tidak beriman, yang memandang bahwa kesuksesan itu hanyalah didunia saja, harta kekayaan, atau apapun yang didapatkan dan di cita-citakan pastilah kelak sia-sia. QS Huud:16 Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Sementara orang-orang yang beriman menyadari bahwa ada faktor lain yang menjadi prerogatif Allah SWT yang menyebabkan ada hasil yang berbeda dari tiap-tiap usaha atau pekerjaan. Itu semua karena Allah SWT hendak menguji manusia yang beriman, manakah diantara mereka yang paling ”ahsan” (baik) pekerjaannya, paling santun tutur katanya, paling baik akhlaqnya, paling profesional dalam mengatur urusannya, sebagaimana yang Allah SWT firmankan ”...supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling ahsan amalnya..” (QS Al-Mulk 2).
Bila kita perhatikan dengan seksama, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk meraih kesuksesan baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Tiga hal tersebut adalah Iman, Amal Sholih dan Ihsan. Iman sebagai landasan spiritual seseorang untuk senantiasa mampu berpikir positif dan bersikap optimis terhadap segala kemungkinan-kemungkinan dalam menjalani hidup, siap dengan kegagalan dan siap untuk bangkit kembali dari kegagalan itu. Amal sholih adalah implementasi dari keimanan yang menggerakkan seluruh potensi organ tubuh manusia dalam rangka ’menjemput’ rizki Allah yang bertebaran dimuka bumi ini. Dengan landasan pikiran optimis, orang yang beriman akan bekerja (beramal sholih) dengan maksimal. Sedangkan Ihsan adalah mekanisme muhasabah (evaluasi) atau respon terhadap umpan balik dari apa yang telah dikerjakan. Dengan Ihsan ini (yang menurut Ibnu Taimiyah didefinisikan sebagai proses untuk senantiasa memperbaiki amal) mampu mengantarkan orang yang beriman untuk terus mengevaluasi dan mengintrospeksi diri guna melakukan perbaikan-perbaikan dari amal dan pekerjaannya. Sehingga akan menghasilkan ”trend” kualitas pekerjaan yang semakin hari makin baik. Hal ini sangat sesuai dengan Sabda Rasulullah sebagai dasar kesuksesan, ”barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang sukses....”. Dengan sifat ihsan inilah seorang yang beriman akan mampu membangun rasa optimis yang luar biasa demi untuk meraih kesuksesan baik kesuksesan hidup didunia terlebih lagi kehidupan di akhirat ”Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqina ’adzaabannaar” (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka) QS Albaqarah:201. Ketiga hal tersebut adalah intisari ajaran ISLAM sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para shabatnya melalui kisah malaikat Jibril yang diceritakan oleh Umar Bin Khaththab r.a dalam hadist ke-8 yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Bila ketiga hal tersebut dapat secara sinergi dijalankan dengan baik, maka akan mampu menghasilkan pribadi yang muttaqin yang pada akhirnya akan dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam QS Ath-thalaq 2-4 ”... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dalam segala urusannya)” (2). ” Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya...”(3). ”Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (4) . dan QS Al-Hujurat:13 Sesungguhnya orang yang paling mulia (paling sukses) diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.
Itulah alasan mengapa Allah SWT memberikan momen spesial berupa bulan Ramadhan, bulan tarbiyyah (penggemblengan) dengan mewajibkan orang-orang yang beriman untuk ”berpuasa” (puasa fisik dan jiwanya. pen.) tidak lain adalah agar manusia bertaqwa (meraih kesuksesan yang haqiqi) QS Al-baqarah 183 Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Setelah mendapatkan gemblengan yang intensif selama satu bulan penuh, maka pada IDUL FITRI lahirlah sebagai manusia baru bagaikan bayi yang baru lahir, yang bersih dari segala dosa karena dosa-dosa yang telah lalu diampuni oleh Allah SWT sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dari Abi Huroiroh r.a ”Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhori dan Muslim). Lalu, apakah setelah IDUL FITRI usai selesai pula amalan-amalan yang dilakukan selama ramadhan???
TIDAK !, Semangat IDUL FITRI adalah semangat FUTURISTIK (kedepan) bukan menoleh kebelakang. IDUL FITRI harus menjadi Start-up untuk memulai hidup baru yang justru setelah IDUL FITRI amalan-amalan kita harus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Ibarat kendaraan, Ramadhan adalah masa perakitan dan masa treatment (percobaan) untuk menjalankan mesin dan Idul Fitri adalah kondisi dimana kendaraan dalam keadaan fit and idle (siap untuk dijalankan). Oleh karena itu, dengan kondisi mesin yang ’reyen’ siap untuk ’diajak’ melakukan perjalanan panjang penuh tanjakan, tikungan serta aral rintangan. Demikian pula seseorang yang dalam keadaan FITRI berarti hadir dengan semangat baru, tenaga baru, pikiran baru dan siap untuk menapaki dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang penuh tantangan. Maka, apakah sama antara mesin yang baru di ”tune up” dengan mesin yang bobrok?, Apakah sama antara orang yang sungguh-sungguh berpuasa dan yang tidak?, Apakah sama antara orang-orang yang bertaqwa dengan orang-orang fasik ?, ”Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang SUKSES” (QS Al-Hasyr: 20). Wallahu a’lamu bish-showab.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment