Sunday, July 31, 2011

Jadwal Imsakiyah Taipei by FORMMIT

IDUL FITRI, Kembali Kepada Fitroh…

Bagi masyarakat muslim Indonesia Idul Fitri sangat identik dengan mudik, silaturrahim, halal bihalal, baju baru, dan segala sesuatu yang baru sebagai wujud ungkapan kegembiraan akan datangnya hari raya. Momen Idul Fitri ini juga menjadi momen yang sangat fenomenal yang terjadi setiap tahun bahkan diperingati sebagai libur nasional yang paling panjang, melebihi libur Imlek yang menjadi libur nasional bagi masyarakat China. Salah satu hal yang menarik adalah pada saat Idul Fitri, perputaran uang terjadi dalam skala besar terutama pengiriman uang atau remitansi dari para TKI yang pada bulan September 2010 saja mencapai 5,03 miliar dolar AS atau sekitar Rp45,27 triliun. Pengiriman uang TKI tersebut sekaligus memberikan multiplier effect ekonomi di Indonesia (Sumber: Website Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jatim). Namun, disela-sela kegembiraan tersebut ada satu harapan yang lebih besar yakni meraih kemenangan di hari raya yang disebut Idul Fitri.
        Idul Fitri yang artinya Hari Raya Fitri pada dasarnya adalah saat dimana manusia dikembalikan dalam keadaan fitroh (tanpa dosa) setelah mengalami proses “peleburan” dosa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dimana manusia pada saat itu bagaikan bayi yang baru lahir yang memegang sebuah “Primordial Agreement” (Perjanjian Primordial) antara makhluq dengan Sang Khaliq sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Alqur’an: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)". (al-A’raf  7 :172)
        Namun, tidak semua orang mendapat fasilitas ”peleburan” dosa semacam itu, karena ada banyak orang yang melakukan amal ibadah dibulan Ramadhan namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga serta rasa capek saja, sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dalam sebuah hadist:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang sholat di tengah malam tidak mendapatkan apa-apa selain letih” (HR. Nasa’i). Nah Tentu saja, hanya orang-orang yang sungguh-sungguh atas dasar iman dan ikhlas karena Allah SWT dalam melaksanakan berbagai amalan selama bulan Ramadhan yang akan mendapatkan pengampunan sebagaimana Rasulullah SAW Sampaikan: "Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang." (HR.Bukhari dan Muslim).  Selain itu juga dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu".
        Sungguh beruntung orang yang pada hari itu telah mendapat ampunan dari Allah SWT atas amal usahanya sebulan lamanya dalam menahan hawa nafsu guna memenuhi panggilan-Nya. Tidak hanya itu, ada keutamaan lain yang diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan dibulan ramadhan, yakni syafaat pada hari kiamat kelak. Rasulullah.saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',”(HR Ahmad)
       
        Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita mendapatkan kemenangan yang hakiki di hari raya fitri terebut, antara lain:
1.         Raja’, berharap hanya kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dosa-dosa kita yang telah lalu diampuni dan berharap agar kita dipertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang.
2.         Muhasabah, melakukan evaluasi diri terhadap segala amal yang telah kita kerjakan selama bulan Ramadhan, sudahkan sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya. Berapa banyak amal yang kita lakukan namun sia-sia.
3.         Istiqomah, mempertahankan dan meningkatkan amal yang telah kita lakukan selama ramadhan

Saturday, July 30, 2011

Semangat IDUL FITRI, Sebagai Titik Tolak Perbaikan Diri

Sudah menjadi kodrat (karakter fitriyah) manusia bahwa ia senantiasa ingin menjadi lebih baik. Tidak satupun manusia yang waras akal sehatnya jika ditanya kelak ingin bahagia (sukses) atau celaka lantas kemudian menjawab ingin celaka (sengsara) atau misalnya bila ditanya apakah kelak ingin masuk surga atau neraka lalu menjawab ingin masuk neraka. Hanya iblis dan kawan-kawannya yang merelakan waktu sepanjang hayatnya untuk ditukar dengan kesengsaraan dengan masuk neraka di hari akhir kelak, naudzubillahi mindzalik !!.
Oleh karena itu, seorang muslim/musilmah seyogyanya memiliki target-target hidup yang jelas untuk meraih kesuksesan, baik sukses hidup didunia terlebih lagi sukses di akherat kelak. Target tersebut dapat bersifat jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Sangat menarik sekali ketika ternyata sejak beberapa abad yang lalu Rasulullah SAW telah secara implisit menanamkan sebuah konsep motivasi bagi kaum muslimin untuk meraih target baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.'' (HR Dailami).  Demikian pula sholat sebagai salah satu washilah pertolongan untuk meraih kesuksesan (QS 2: 45, 153) memberikan fadhilah yang dapat membersihkan dari “dosa” (dalam konteks kehidupan sebagai penyebab kegagalan, lihat QS 20:14, 124) antara jumat ke jumat (sebagai target mingguan) dan antara ramadhan ke ramadhan (target tahunan) sebagaimana termaktub dalam HR Muslim “shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar”.
        Idul fitri merupakan kondisi dimana ketika ramadhan manusia mengalami penggemblengan diri untuk menjadi orang yang memiliki modal suskes jangka tahunan, lalu kemudian memasuki sebuah fasa baru yang disebut kembali ke fitroh (karena dosa-dosa yang lalu telah diampuni oleh Allah SWT) sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan: "Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang." (HR.Bukhari dan Muslim) sebagai titik tolak perubahan guna meraih sukses jangka panjang yang lebih hakiki yakni taqwa (sebagaimana ditetapkannya tujuan puasa bagi orang-orang yang beriman, yakni agar bertaqwa (QS 2:183), sekarang hingga akhir hayat. Karena tidak mungkin target taqwa yang dimasud disini adalah taqwa yang temporal hanya saat puasa saja, tapi melainkan taqwa yang istiqomah hingga akhir hayat, bahkan kita “dilarang mati” keduali dalam keadaan “berserah diri” atau dengan bahasa yang lebih tepat “memegang teguh ketaqwaan” tersebut (QS. Ali Imran: 102)). Dengan demikian semangat idul fitri ini akan menghantarkan manusia pada milestone baru untuk kedepannya bisa membuat tren perbaikan diri menjadi meningkat.
Alangkah sia-sianya, ketika seseorang telah meraih modal kesuksesan jangka pendek kemudian modal itu habis ditengah jalan sehingga harus mengulangi lagi, begitu dan begitu terus tiap tahunnya, sehingga tidak memiliki tren investasi modal yang meningkat guna mencapai kesuksesan jangka panjang.
        Demikian halnya dengan kebiasaan kita ketika menghadapi Idul Fitri, betapa sia-sianya setelah satu bulan penuh kita menggembleng diri, menahan lapar dan dahaga, menahan kantuk, mengabaikan rasa letih dan capek guna melaksanakan ibadah bulan romadhon hingga kemudian meraih kemenangan di hari raya fitri. Tapi, pasca idul fitri kita kembali mengalami kemerosotan amal, kehilangan istiqomah, lebih bahaya lagi kita kehilangan semangat untuk berdakwah dan kemerosotan akhlaq serta akidah, naudzubillah.
Ada beberapa pertanyaan yang mungkin dapat kita renungkan ketika telah sukses melewati bulan ramadhan dan memasuki idul fitri: DIMANA SHOLAT LAIL KITA?, DIMANA TADARRUS KITA? DIMANA AMAL JARIAH KITA? DIMANA SENYUM dan KEMAMPUAN KITA MENAHAN AMARAH? Yang telah kita pupuk selama ramadhan?? Seolah olah mereka tiba-tiba pergi begitu saja, kita jadi malas lagi tadarrus, kita jadi ogah lagi sholat lail, kita jadi enggan lagi bershodaqoh, kita jadi susah senyum dan mudah marah lagi (meskipun dalam konteks kehidupan kita, hal ini tidaklah naif-naif amat, karena sifat fitriyah manusia juga yang mengalami peningkatan dan penurunan keimanan, dan setidaknya kita juga telah beruntung telah mendapatkan pengampunan Allah, apalagi jika mendapatkan lailatul qadar, kita telah mendapatkan tabungan amal hingga 83,3 tahun kedepan, tapi apakah itu esensinya??). Seharusnya tidak demikian, sebagaimana yang Rasulluah pesankan, secara implisit kita harus memiliki target-target tahunan, dimana tahun ini harus lebih baik dari tahun yang lalu dan seterusnya. Sehingga tidak terjadi pengulangan dan bahkan stagnasi amal. Model seperti ini disindir oleh Allah SWT dengan gaya bahasa yang luar biasa didalam Alqur’an surat An-nahl 92 ”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...”. Lalu kemudian ia memulailah lagi untuk memintal benangnya dan diurai lagi dan seterusnya. Kapan akan terbentuk kain pintalan yang indah?? Semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan kesalahan kita, dan kita dapat segera menyelesaikan pintalan itu dengan sebaik baiknya tidak seperti wanita yang digambarkan dalam surat An-Nahl tersebut. Karenanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita mendapatkan kemenangan yang hakiki di hari raya fitri terebut, antara lain:
  1. Raja’, berharap hanya kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dosa-dosa kita yang telah lalu diampuni dan berharap agar kita dipertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang.
  2. Muhasabah, melakukan evaluasi diri terhadap segala amal yang telah kita kerjakan selama bulan Ramadhan, sudahkah sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya. Berapa banyak amal yang kita lakukan namun sia-sia.        
  3. Istiqomah, mempertahankan amal yang telah kita lakukan selama ramadhan dan meningkatkannya pasca ramadhan yang dimulai sejak Idul Fitri sebagai titik tolaknya.


Wallahu a’lamu bish-showab.

Friday, June 24, 2011

Pelajaran dari Dosa Mata Tsa'labah...

Ia tengah menjalankan tugas dari Rasulullah SAW untuk suatu keperluan. Di tengah jalan, “bencana” datang menyapanya. Sewaktu melayangkan pandang ke salah satu rumah yang tidak tertutup pintunya, terlihatlah olehnya wanita yang sedang mandi. Mungkin hanya dalam hitungan detik, bukan menit. 

Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia segera berlari melewati rumah demi rumah, kampung demi kampung, hingga keluar Madinah. Ia tiba di sebuah padang pasir yang sepi. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali apa yang telah dilihatnya. Dengan derai air mata dan suara yang tersisa ia memohon ampunan Rabbnya. 
Rasulullah kehilangan sahabat ini untuk satu hari. Beliau bertanya-tanya, tetapi sahabat yang lain tidak juga mengetahui keberadaannya. Hingga berlalulah empat puluh hari. Akhirnya malaikat datang mewahyukan di mana ia berada. Umar dan Salman ditugasi Sang Nabi untuk menjemputnya. 

Dengan susah payah Umar berhasil menemukannya. Ia memeluk sahabat itu penuh rindu. “Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW tentang dosaku”, tanyanya penuh kekhawatiran. “Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, Rasulullah menugaskan kami untuk mencarimu.” 
“Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah, kecuali ketika beliau sedang shalat.” 

Sesampainya di Madinah dan mendapati Rasulullah membaca Al-Qur’an dalam shalatnya, sahabat ini pingsan. Ia jatuh sakit hingga berhari-hari. Ketika Rasulullah tahu kondisinya dan menjenguk ke sana, ia masih saja khawatir akan dosanya. “Apa yang kau rasakan?” Rasulullah bertanya kepada sahabat yang kini telah berada dalam pangkuannya ini. “Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku”. 
“Apa yang kau inginkan?” tanya beliau lagi. “Ampunan Rabbku”, jawabnya penuh harap. Tak lama kemudian Jibril menyampaikan wahyu, “Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, ‘Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.” 
Ketika Rasulullah SAW memberitahu wahyu ini kepadanya, sahabat ini meninggal seketika. Namanya Tsa’labah. 

Tsa’labah. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, bahkan dari kemaksiatan yang –oleh orang di zaman sekarang- tidak dianggap. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, meskipun dari kesalahan yang sebenarnya tidak disengaja. 

Wednesday, June 22, 2011

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW (dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”
” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”
“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa tamumu?”
“Pencuri.”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
Iblis segera menimpali:
“Tidak,tidak.. tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir.
Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”
Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-Anaknya
“Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.”
Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”
Cara Iblis Menggoda
“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘shalatmu tidak sah’
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan iapun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”
10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT
“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam”
“Apa saja?”
“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.” Allah berfirman,
“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.”
(QS Al-Isra :64)
“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang Membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.”
Allah berfirman,
“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).
“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”
Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 - 119)
juga membaca,
“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”
Sampaikanlah risalah ini kepada saudara-saudara kita, agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas-tugas dari Iblis atau Syaithan tsb. Sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis atau Syaithan.

Thursday, June 9, 2011

FASTEN YOUR SEAT BELT, WE ARE READY FOR LANDING....

Taujih ustadz HM Anis Matta, Lc
 Kamis, 2 Juni 2011



TAK SEMUA MASALAH POLITIK HARUS DISELESAIKAN DENGAN CARA POLITIK

Ikhwan akhwat sekalian.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ke Malaysia. Tiba-tiba ada goncangan pesawat kemudian ada pengumuman dari pilot "Para penumpang sekalian kita akan mengalami goncangan selama 15 menit setelah itu cuaca akan kembali baik." Setelah 15 menit goncangan benar berhenti, pesawat terbang normal dan kita landing di Kuala Lumpur dengan selamat.
Saya mengingat itu terus menerus karena kita sedang menghadapi operasi politik secara bersamaan. Dan saya yakin operasi politik itu hanya akan berlangsung 15 menit setelah itu goncangan kembali ke tempat lain, bukan karena kita yang mengarahkan anginnya ke sana (grr..). Goncangan sudah merupakan kemestian yang akan kita hadapi.

Jadi ikhwah sekalian. Dari perjalanan itu saya mencoba-coba rekonstruksi kembali bahwa memang perjalanan kita ini ketika kita memasuki mihwar muasasi bergumul di ruang politik yang luar biasa dahsyatnya.
Ikhwah sekalian saya pernah tanya seorang pilot apa bedanya menerbangkan pesawat siang hari dan malam hari. Pilot menjawab sama saja karena ketika kita sudah di ketinggian yang ada hamparan kosong. Kanan kiri depan semuanya hanya ada awan.
Jadi gelap dan terang tidak penting bagi kita, jawab pilot. Jadi bagaimana cara anda mengetahui arah kalau tak ada bedanya siang atau malam. Kita pake GPS. GPS yang menuntun perjalanan kita ini. Jadi, hal pertama yang diperlukan seorang pilot adalah GPS. Jadi kalo GPSnya ada masalah pasti dia punya masalah, karena ketika kita sudah ngga di bawah kita ngga tau posisi, kalau bukan karena ada GPS

Saya hadir di Seminar Mukjizat Al Quran tahun 1986. Saya salah satu penerjemah. Salah satu temanya adalah tentang cuaca. Ayat-ayat AlQuran tentang awan menunjukkan bahwa seluruh yang ada di alam semesta tak bisa kita pastikan apalagi dikendalikan tapi bisa kita ramal. Badai kemana bisa kita ramal.
Jadi karena itu seorang pilot harus terus berkomunikasi dengan orang yang ada di tower untuk mendapatkan update info terbaru tentang keadaan cuaca yang keadaan ini adalah fata yang tak bisa dikendalikan tapi bisa disiasati.
Jadi kalau ada perubahan cuaca mendadak, tower bisa bilang rute dirubah, tapi destinasi tak berubah. Jadi seorang pilot menerbangkan pesawat butuh 2 hal ini. Pertama GPS, kedua ramalan cuaca

Seorang pilot tak bisa mengendalikan cuaca di luar. Itu di luar kendali sama sekali. Makanya kemungkinan dia mengalami kecelakaan selalu ada. Kita juga tak bisa mengendalikan lingkungan yang ada di luar kita ini. Yang ada dalam analisa-analisa manajemen strategis disebut lingkungan strategis yaitu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi situasi dimana kita berada.
Kita tak bisa memastikannya walau kita bisa membaca dan membuat prediksi-prediksi ang disebut prakiraan keadaan. Tapi semua prediksi ini adalah prediksi yang tidak pasti, tapi diperlukan karena itu memberi kita info real time terhadap situasi yang berkembang.
Oleh karena itu, kalau ada keadaan cuaca yang buruk, pilot bilang: tolong kencangkan ikat pinggang. Selain itu apalagi yang bisa kita lakukan? (Audiens: berdoa …).
Ketika Merapi meletus , ke Jogja yang normalnya 50 menit jadi 2 jam. Di pesawat semua pengurus DPP ada disitu. Ketua Majelis Syuro, Bendahara, semua. Jadi kalau pesawat jatuh, kita harus munaslub (grr..). Pesawat bisa tiba-tiba turun 40 meter. Semua diam. Semua dzikir. Ini bukan goncangan 15 menit.
Karena sudah tegang semua tak ada yang bahkan berbisik dengan tetangga. Kita semua tegang jamai.
Lalu saya menoleh ke belakang dan mengangkat tangan: Assalamualaikum. Kita jadi agak normal kembali walau goncangan tetap saja

Sekali waktu dalam perjalanan ke batam naik pesawat. Transit di pekanbaru, pilot bilang ada kerusakan di mesin jadi kita harus kembali. Beberapa waktu kemudian ada pengumuman dari pilot kerusakan tidak terlalu parah jadi kita lanjutkan perjalanan. Dalam situasi begitu tak ada yang bisa kita lakukan selain kencangkan ikat pinggang dan .. berdoa.
Ikhwah fillah sekalian,
Tak semua masalah politik harus kita selesaikan dengan cara politik.
Kalau antum lihat di AQ kata yang paling banyak terkait dengan sifat atau karakter adalah sabar. Sabar itu artinya bukan bertahan. Tapi terus menerus maju dengan beban yang ada.
Dan pesawat itu kalau ada guncangan yang kita lakukan adalah kencangkan ikat pinggang, bukannya pesawat berhenti parkir di tengah badai.
Kita dapat laporan dari wartawan. Macam-macam. Dalam situasi begini, kita akan hadapi pakai cara apa? Saat perjanjian hudaibiyah sahabat sampai makan daun. Ada saatnya kencangkan ikat pingganag karena tak ada lain yang bisa dilakukan.
Fitnah itu, kata ulama, saking buruknya situasi kita tak bisa lihat tangan kita sendiri
Dan saat seperti itu, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Ada saatnya kita kencangkan ikat pinggang.
Kalau antum ambil doa dari orang seperti ayahandanya Nabi Yusuf: Saya hanya mengadukan semua kegelisahan saya kepada Allah.
Ada kisah seorang soleh dirampok di tengah jalan. Tapi perampok merasa tak cukup hanya mengambil hartanya. Saya juga ingin membunuh kamu. Kata orang soleh, tapi kasih saya kesempatan sholat 2 rakaat. Waktu sholat dia berdoa, "ya Allah hadapilah orang ini." Sebelum dia selesai sholat, perampok sudah mati
Kaum salaf di antara doa-doa mereka, "Ya Allah ketemukanlah orang zolim dengan sesama orang zalim dan keluarkan kami dari mereka dengan selamat."
Waktu video mirip saya keluar ada yang mengatakan harus ada operasi politik. Saya katakan lebih baik kita umroh saja sambil menghibur diri dan mohon pertolongan Allah. Kita berdoa dan tak tahu kapan isu itu reda tapi sebelum saya pulang umroh, isu itu reda.
Tidak semua masalah politik harus diselesaikan dengan cara politik. Langit punya cara. Basis spiritual kita harus diperkuat dalam berdakwah. Dengan basis ini kita punya keyakinan
Allah berfirman bersabarlah karena janji Allah itu benar dan jangan orang-orang yang tidak percaya itu menggoyahkan kamu. Jalan terus tawakkal sambil kencangkan ikat pinggang. Itu cara kita mensiasati. Kita tak hanya berdiam diri.
Kita juga butuh informasi real time. Sambil aware, jangan sampai badai terjadi baru kita mau belok. Tapi kita sudah dapat informasi ini mau ada badai, kita sudah siap.
Jadi ikhwah fillah sekalian, pesawat itu kan goyang-goyang waktu ada badai. Reaksi penumpang beda-beda. Ada yang diam pegang ikat pinggang, ketika goncang menguat naik turun seperti itu ada yang teriak, ada juga yang muntah-muntah

Kalau goncangan lama banyak yang stress. Naik kapal perintis ke Ambon selama 3 hari. Kami harus berpegangan di kapal selama 3 hari berturut-turut. 3 bulan recovery karena jalan itu seraya goyang dunia.
Pada akhirnya kita berpikir bahwa ujung dari semua ini adalah kematian. Tapi ada juga yang sempat berpikir tentang daftar utang yang belum dibayar. Ada juga yang mikir belum walimah.
Goncangan seperti inilah yang disebut amaliyah tamyiz, proses seleski internal di antara kita sendiri

Orang-orang yang stress dalam perjalanan panjang itu juga reaksinya macam-macam. Ada yang menyalahkan pilot. Tadi kenapa ga bilang banyak badai, kalo kita tahu kan ga usah terbang.
Tapi apapun reaksi antum, kita harus terus jalan, karena kita tak mungkin berhenti di tengah badai itu, hancur diombang-ambingkan entah mendarat dimana tak jelas.
Jadi apapun yg terjadi di luar, di dalam tak boleh gaduh karena gaduh tak menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau lagi goncang begitu nyalah-nyalahin pilot terus pilot bilang ya sudah anda saja ambil alih pesawat. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi
Perlu diingat, kita naik pesawat ini sukarela, kita memilih naik di pesawat ini. Keputusan pribadi resiko pribadi kitapun kita sendiri menyetujuinya.
Nah ikhwah sekalian,
Dalam keadaan seperti ini kita melihat antara cuaca yang ada di luar dengan reaksi penumpang yang ada di dalam menentukan situasi apakah kita akan tiba di tujuan dengan selamat.
Setelah melampaui operasi politik yang luar biasa, saya coba-coba cari inspirasi karena baca di teori-teori politik ga ada teorinya. Semua asumsi teori politik dilandaskan atas asumsi normal. Saya mencoba mencari insipirasi dimana kita berada. Saya baca-baca terus Surat Al-Ahzab. Saya menemukan banyak inspirasi di surat ini yang artinya partai-partai, golongan-golongan, multipartai
Ayat 1 sd ayat 7, berbicara tentang keluarga. Ayat 7-27 bicara tentang situasi perang Khandaq. Ayat 28 dst bicara kembali tentang keluarga. Seakan 2 surat ini ingin mengatakan setiap kita punya 2 dunia. Dunia keluarga dan di luar keluarga. Dan kita bisa menghadapi goncangan-goncangan apabila situasi keluarga juga tenang. Bisa dibayangkan jika di luar terjadi goncangan, lalu pulang ke rumah juga dapat goncangan.
Situasi keluarga ini juga digambarkan dalam alquran terkait permintaan tawaran Nabi kepada istri-istrinya. Tawarkan kepada istri-istrimu: Katakan hai Muhammad, bahwa kalau kamu menginginkan kenikmatan dunia maka akan saya berikan kenikmatan dunia, lalu saya ceraikan kalian. Artinya putus hubungan. Ini dilakukan supaya kita tak menghadapi dua front sekaligus.
Salah satu pembahasan tentang Palestina waktu di Sudan, pimpinan Hhamas diprotes sama beberapa ikhwan dari negara lain. Hamas ini kan gerakan perlawanan, Muqawamah. Misinya jihad. Anda sudah melakukanyna. Tapi 4 tahun terakhir anda memegang Gaza dan tak lagi berperang. Hanya keliling-keliling cari duit untuk dibagikan ke rakyat Gaza, sudah menikmati kenikmatan dunia karena berkuasa. Saya pikir benar juga logis juga 4 tahun tak ada perang. Kenapa anda tak menyerang Israel

Kenapa tak dipakai serang Israel? Sudah punya roket, basis kota, dll.
Ust. Khalid Misyal menjawab tenang. Kalo kita bertempur kita memerlukan hal yang disebut halaman belakang, jadi kalau prajurit maju dia capek mundur istirahat di halaman belakang. Lalu maju lagi.
Seperti mujahidin Afgan melawan Uni Soviet punya halaman belakang namanya Pakistan. Tapi kita di palestina tak punya halaman belakang karena seluruh tetangga palestina dalah kolaborator Israel. Yordan, Syria, Mesir, Libanon tak ada yang bisa jadi halaman belakang
Orang Palestina manusia biasa juga. Kalau bertempur terus lalu stress bisa melakukan kesalahan terlalu banyak atau bahkan jadi kanibalis. Itu yang tak dimiliki Hamas sekarang. Halaman belakang Hamas adalah Gaza. Kasih kita waktu untuk istirahat.
Kalau perang terus yang mempunyai masalah bukan cuma mujahidinnya tapi juga keluarga yang ditinggal. Seperti masa Khalifah Umar bin Khatab. Seorang perempuan berpantun ria. Isinya aneh kira-kira begini: Demi Allah kalau bukan karena takut padamu, niscaya ranjang ini sudah bergoyang dengan laki-laki lain.
Saat menghadapi perang Timtim, ada tentara yang jadi kanibalis. Ketemu rumah dibakar, orang disembelih, hewan disembelih. Sampai sekarang orang ini kalau ga lihat darah dalam seminggu bisa stres
Jadi di pesawat disuruh kencangkan ikat pinggang, ingat bahwa kita meninggalkan rumah. Terus pulang ingat akan perang lagi. Sampai ada yang bilang mending pesawat ini meledak saja sekalian (grr…).
Jadi ikhwah sekalian, halaman belakang kita itu adalah rumah kita sendiri. Bayangkan. Lagi ada masalah di luar, istri telpon, "Bi pulang cepat ada masalah di rumah."
Tentu berbeda jika sekalipun memang ada masalah di rumah, tapi istri mengatakan, "Umi dan anak-anak mendoakan abi." Tenang kita berangkat. Kita perlu ketenangan itu
Basis ketahanan keluarga adalah basis yang kuat. Jadi yang menjadi fokus basis ketahanan keluarga oleh bidang perempuan ini sudah benar. Karena kita akan menghadapi masa seperti kaum muslimin di perang Khandaq. Makin kuat goncangan makin butuh halaman belakang yang solid.
Seorang ikhwan ketemu marah-marah sama saya, bukan sama saya tapi sebenarnya sedang stres. Memang nasib saya tak terlalu bagus hari ini. Stres di kerjaan selama lebih dari 12 jam. Pulang diomelin istri, nanti saya mau berdoa. Allah, berikanlah saya istri-istri yang tidak komplain terus sama saya.
Ini joke saja. Jadi memang berat kalau menghadapi dua perang seperi itu, butuh ketahanan jiwa yang luar biasa
Ayat 27-28 itu Allah mulai merekonstruksi peristiwa perang Khandaq. Dan rekonstruksi ini dimulai dengan 2 premis. Ayat ke 7 dan 8 yang mengatakan: Dan ingatlah tatkala Allah mengambil dari Nabi-nabi itu sebuah perjanjian dan dari kamu Muhammad, dari Nuh, Musa, Isa, kami ambil dari mereka mitsaqon ghaliza. Semua goncangan ini adalah sunnah dalam perjalanan hidup.
Asyadun naas… yang paling keras ujian hidupnya adalah nabi-nabi, lalu yang paling dekat hidupnya dengan nabi-nabi. Jadi siapa saja yang melalui jalan ini pasti mengalami goncangan. Begitu juga Rasulullah saw.
Itu yang disebut mitsaqon ghaliza. Perjanjian yang keras. Supaya Allah menguji orang yang jujur. Kita berbaiat bukan dengan satu orang. Tapi baiat kita uahidullah al adziim. Berbaiat dengan Allah bukan dengan muroqib aam, atau presiden partai. Kadar kejujuran itu yang akan diuji, ini emasnya berapa karat
Perhatikan Al Ahzab melukiskan Perang Khandaq dan detil-detilnya. Lalu ayat sesudahnya. Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa me
Lalu ayat sesudahnya. Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit. Benar-benar seperti sebuah drama.
Premis kedua Allah mengatakan: Wahai orang-orang yang beriman ingatlah karunia Allah kepada kalian. Karena yang memenangkan pertarungan ini bukan strategi kalian yang sangat hebat tapi karena Allah menghendaki begitu.
Allah maunya begitu2x.

Jadi semua strategi ini cuma asbab. Tapi hasil akhirnya seluruhnya ketentuan Allah swt. Tatkala tentara-tentara itu datang kepada kalian, kami kirim kepada mereka badai/angin. Kenapa angin? Isyarat dari Allah bahwa tools Allah untuk menjalankan rencananya sangat banyak.
Memang hanya angin, tapi angin-angin dikumpulin jadi satu, efeknya beda. Angin-angin dikumpulin jadi badai. Dan tentara yang kalian tidak lihat. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan.
Detil lukisannya. Tatkala tentara-tentara itu datang di atas kalian... Perang khandaq terjadi pada tahun ke5. Pasukan terdiri dari 10ribu musyrikin. Ini perlu antum perhatian lukisan ini

H-6 menjelang pertempuran info baru diketahui pasukan muslimin. Terdiri dari 4ribu musyrikin quraisy sisanya musyrikin arab non quraisy. Jadi mobilisasi terbesar dibanding 2 perang besar sebelumnya. Badar 1000 musyrikin, Uhud 3ribu musyrikin. Naik jadi 10 ribu ini mobilisasi yang luar biasa. Puncak mobilisasi.
Tapi yang lebih berbahaya karena info serangan baru diterima H-6. Muslimin Madinah ga siap makanya menggali parit setengah kota madinah. Saat itu musim dingin dan musim paceklik. Dingin madinah bagi yang tahu, beda dengan dinginnya puncak. Menusuk, mudah hidung mengeluarkan darah.
Maka parit khandaq itu digali sejauh lompatan kuda. Lebar 6 meter dalamnya 3 meter

Masalah lain, bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu dalam 6 hari? Itu sudah masalah tersendiri dan ini juga pelajaran tentang speed of consolidation, tingkat kecepatan konsolidasi.
Selain musyrikin dari luar, ada lagi pasukan yang dari bawah yang dekat dengan kalian. Yaitu yahudi madinah yang sudah tandatangan piagam NKRI sebelumnya. Jadi ada 3 kabilah besar yahudi berkolaborasi dengan 10 ribu yang ada di luar. Ada lagi kaum munafiqin dalam jamaah muslim. Ada lagi yang lain: dhuafa muslimin. Orang-orang lemah yang kata Allah: di antara kalian ada yang suka mendengarkan ocehan mereka itu

Waktu partai diserang ada yang bilang jangan-jangan benar serangan itu.
Jadi ada musyrikin dari luar, ada yahudi, ada munafiqin. Dalam lukisan ini sangat pendek deskripsi tentang musyrikin, yang panjang justru tentang munafiqin dan dhuafa. Yang di dalam yang mengambat kamu, yang membuat kamu ragu-ragu untuk maju.
Begitulah ungkapan sebagian mereka. Musuh terlalu besar. Target terlalu besar. Apalagi hasil survei masih rendah.
Yang dari dalam itu yang paling berbahaya. Yang saya katakan tadi, reaksi penumpang di pesawat bisa beda-beda. Satu teriak-teriak ketakutan, ada yang diam saja. Ingatlah tatkala mata kalian membelalak dan jantung kalian sampai ke tenggorokan dan kalian mulai menduga yang buruk tentang Allah. Saat itulah orang beriman diuji segoncang-goncangnya

Ada satu masa kita menghadapi semuanya. Apalagi pilot disorientasi, penumpang panik. Fasten seatbelt, dan tawakal. Itu saja.
Perhatikan, ini adalah drama, Allah mengendalikan semuanya, karena pertempuran ini tak selesai dengan pertempuran. Dalam drama Khandaq, apakah ada pertempuran? Begitu kaum musyrikin sampai, mereka bingung kok ada parit, bengong di depan parit itu. Akhirnya mereka mengalami disorientasi. Nunggu-nunggu begitu , yang terjadi saling menatap.

Saat itu pasukan muslimin dibagi dua: 3ribu di pinggir parit sisanya orangtua, perempuan, anak-anak di balik bukit.
Salah satu yang disuruh jaga bukit adalah Hasan bin Tsabit. Penyair, jadi agak mellow (grr..). Ada perempuan mengatakan ada yahudi yang mau menghasut kita, ya Hasan bunuh yahudi itu. Hasan gemetar karena takut, akhirnya perempuan itu yang membunuhnya.
Rajin mendengarkan hasutan dan takut ambil resiko, seperti pengikut nabi Musa: kita nunggu hasil aja deh. Dan ada orang yang seperi itu. Ini semua cuma drama. Bagaimana menyelesaikannya?

Pasukan musyrikin dikirimkan angin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan seluruh kemarahan mereka, target mereka tak tercapai. Dan Allah menghindarkan orang-orang beriman dari medan pertempuran.
Seperti ulat bulu, gampang saja Allah kirimkan. Dua orang yang sama bersiasat terhadap kita. Hatinya tdiputar-putar. Oleh Allah, dua orang ini bertengkar. Siapa yang bikin mereka bertengkar kita juga tak tahu. Ya Allah sibukkanlah orang zalim dengan sesama orang zalim. Karena Allah yang memutarb alikkan hatinya.
Kita diselamatkan Allah dengan caranya sendiri.
Coba antum bayangkan waktu kemarin kita hadapi operasi politik, saat itu kita dihadapkan perjanjian baru yang luar biasa mengekangnya. Oooh.. begini cara kerjanya.
Kita ulur-ulur terus sedikit-sedikit. Kita dengarkan semua sudah tandantangan tinggal PKS. Kita dengarkan terus, kita tahu semua ini hanya drama. Allah yang mengatur semua, ilmu kita ini tidak memadai . Waktu kita mau tandatangan, Ust Lutfi Tanya ke ust Hilmi, tandatandangan ustadz? Muroqib aam bilang tandatangan, kita sudah menang. 90% usul kita diterima di kontrak itu.

Di kontrak kita buat celah agar kita bisa exit ketika ada masalah, cuma orang tak tahu kapan exitnya. Dan kita punya dokumen-dokumen yang tak dimiliki partai lain. Waktu kemudian saya ketemu mereka, Pak Sudi, Pak Joko, saat peringatan hari lahir Pancasila, kita jabat tangannya agak enak

Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran. Diselesaikan dengan cara Allah swt.
Makanya ikhwah sekalian, dalam situasi sedemikian, tegangnya, tak tahu endingnya dan bikin orang panik, orang yang tak tersambung ke langit gampang menyerahnya. Tapi karena kita tahu skenario Allah, kita jadi tenang menghadapinya.

Waktu nabi Musa diserang Firaun, Allah justru nyuruh ke tepi laut. Teorinya orang dikejar itu larinya ke gunung. Ini ke tepi laut. Mau apa kita di sini? Itu kan hal yang sederhana. Ada rencana yang belum disampaikan Allah swt. Jangan laju dulu. Dikejar tapi jangan laju dulu. 
Pada subuh harinya ayam berkokok tak subuh hari, tapi saat matahari mulai terbit. Jadi orang terlambat bangun. Tapi firaun masih santai karena merasa masih bisa menyusul Musa. Begitu Musa sampai di tepi laut, Allah perintahkan pukul tongkat itu.
Firaun bingung, darimana Musa dapat teknologi membelah laut? Setelah Musa dan pengikutnya lewat dan Firaun masuk ke tengah-tengah itu, maka close. Dan sebuah sejarah diakhiri.
Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran

Yang diperlukan keyakinan penuh yang tak mempan digoyang. Badasi sedikit, kader-kader banyak yang stres, under pressure. Begitu ada kecelakaan kejadian Arifinto, muncul suara dari kader: Pecat!
Padahal ini kesalahan pelanggaran menengah tak perlu sampai sebegitu sanksinya, tapi semua ikhwah di daerah minta pecat! Mundur! Dewan Syariah juga akhirnya under pressure. Akhirnya DSP bikin keputusan sendiri. Arifinto berjiwa besar. Dia ambil keputusan sendiri. Mengundurkan diri.
Tapi antum lihat, itulah efek kepanikan

Dan sekarang efek ini pindah ke tempat lain. Sebenarnya secara hukum aneh, Nazarudin itu belum ada status hukumnya sudah dicekal. Tapi hakim-hakim sekarang menghadapi masalah yang juga dihadapi di masa suatu khalifah. Khalifah dan rakyat bertengkar. Hakim bingung. Kalau saya menangkan khalifah, dibilang saya subyektif menangin khalifah karena dia berkuasa. Kalau memenangkan rakyat – yang belum tentu benar – saya akan dielu-elukan karena berpihak pada rakyat.
Ini tak ada hubungannya dengan kasus Nazarudin, tapi kita lihat bahwa hakim bisa menghadapi masalah seperti ini.
Saya ketemu mantan ketua KPK Pak Ruki, yang saya katakan KPK bertaji ketika Pak Ruki jadi Ketuanya. Dia katakana permintaan publik terlalu besar. Kemampuan terlalu kecil. Kita dikasih satu kampak, yang mau ditebang hutan. Kita tebang, dibilang tebang pilih, habis itu semua teman kita jadi musuh, kita jadi kehilangan teman ,kehilangan keluarga. Kita menghadapi situasi seperti ini. Kekacauan seperti ini

Serangan-serangan ini , kita butuh ketenangan.
Jadi ikhwah sekalian, dengan kesadaran bahwa kita menghadapi goncangan, sumber ketenangan kita berasal dari keyakinan kepada Allah swt yakin pertolongan bahwa ujian yang akan dihadapi ini bersifat indiividual. Ujian individual.
Negara ini hanyalah sumber daya yang kita perlukan, bukan yang kita tuju.

Peran utama kita adalah ustadziyah. Negara ini adalah sumber daya. Waktu kita buat partai cuma 3000 orang. Sekarang berapa kelipatanya? Siapa menteri keuangan jaman nabi Muhamad. Siapa kas jaman nabi? Ada kan? DPW Lampung punya kas ga? Kalo ga punya kas ga mungkin punya GSG begini.
Yang masuk islam sebelum hijrah beda dengan yang masuk islam pasca fathu makkah tentu berbeda. Sekitar 100 sampai 125 ribu orang. Yang pasca fathu mekkah masuk Islam karena apa? Karena politik. Yang masuk islam sebelum itu individual. Pemilih individual. Yang pasca fathu makkah komunal, politik. Terjadi kuantum pada kuantitas karena ada efek kemenangan.
Itulah efek Negara, Negara punya efek multiplier, mengapa yang masuk islam pas hijrah sedikit? Karena yang terbayang resiko. Liqo sembunyi-sembunyi. Resiko ditangkap. Jadi kita akan menghabiskan umur produktif kita underground. Yang sanggup melakoni ini adalah yang punya mentalitas hati bersih, akal sehat , berani pula. Ciri-ciri generasi pertama. Generasi muhajirin jumlahnya sedikit, tapi mereka yang memulai arus sejarah. Begitu berkembang jadi arus, yang lain follower. Orang-orang datang masuk islam.

Sebagian orang masuk islam bukan karena percaya pada islam tapi setelah melihat kekuatan islam. Yang masuk islam karena melihat kekuatan islam adalah pengikut politis.
Coba antum lihat berapa kader kita setelah kita jadi partai. Berapa kuantumnya? Berawal dari 500 orang. Lalu 800-an di awal berpartai. Sekarang 33 ribuan. Itulah efek Negara, jadi Negara adalah sumberdaya dan setiap ideologi butuh 2 hal. Pertama komunitas. Kedua, sumber daya. Pertama adalah qiyadah. Kedua junud, follower.
Tapi untuk membangun ini semua butuh sumber daya. Di PKS ideologi jelas. Komunitas jelas. Masalahnya di sumber daya. Kelak setelah PKS memegang Negara ini yang jadi gubernur bukan PKS, tapi mendaftar di PKS jadi gubernur

Di pergaulan sehari-hari kita dengar ungkapan orang, hati saya di PKS. Itu efek Negara. Efek kemenangan. Mereka bukan saja membuka hati kepada islam tapi juga takut kepada islam.
Makanya fathu makkah 100ribu laki-laki perempuan. Apa yang mereka katakan. Hai Muhammad kamu ini adalah saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia. Begitu sanjungannya.
Akan ada waktunya orang datang pada antum: PKS kumpulan orang soleh, orang-orang dermawan, bagi dong (grr..). Itu sesuai marhalah mereka. Kata Nabi, kalian bebas. Saya tak datang untuk balas dendam. Bukan untuk membunuh tapi untuk buka mata kalian pada kebenaran

Sekarang kita berbuat baik, masih gampang dioperasi. Nanti saatnya kita berkuasa orang akan berpikir, dia ini bukan cuma baik, tapi juga bisa balas dendam. Selama ini kita masih pakai tawakal saja. Sekarang kita yang akan menyerang mereka. Setelah itu mereka tak bisa menyerang kita lagi.
Ketika datang perintah haji, kafir Mekkah bilang tahulah kalau kita kalah sama orang Madinah, sekarang orang Madinah mau datang haji, apa maskudnya? Ngeledek. Show of force. Maka mereka ga boleh masuk. Lalu terjadilah Perjanjian Hudaibiyah, kenapa Rasulullah menerima. Ini posisi kita diserang. Situasi defensive juga ada di musyrik Qurais. Tahun berikutnya terjadi umroh qodho. Tahun berikutnya fathu makkah. Dan jumlah yang masuk islam pasca fathu makkah berkali lipat dibanding era mekkah sampai perang khandaq

Negara adalah organisasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatur Negara. Kalau ada bansos, boleh ga ikhwah nerima? Boleh saja tapi sesuai persyaratan dan perlu diorganisasi. Kalau ga ada organisasi ga ada pertandingan. Kalau ada organisasi tapi ga dihormati ujung-ujungnya perkelahian.
Tapi organisasi ini adalah infrastruktur. Ga ada isinya. Pernah suatu waktu, negara jalan sendiri, agama jalan sendiri. Ketika kita coba mengumpulkan keduanya, itu dalam konteks menyempurnakan infrastruktur dan isinya. Konten dan sumber daya.
Saya heran orang memperdebatkan agama. Ulama sunni menjelaskan hubungan agama dan Negara. Negara adalah penjaga. Agama adalah asasnya

Kalo ga bikin partai tarbiyah jalan terus tapi tumbuh terbatas. Ketika kita maju ke Negara persoalannya bukan profesionalisme, tapi konfiden. Termasuk kita di DPP beranggapan jarak masih jauh karena butuh banyak keahlian, dst. Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan adalah konfiden, rasa percaya diri. Ini bukan tujuan hanya sarana untuk mengukur seluruh rencana dakwah.
Tentang debat hari lahir Pancasila, memang ada kesalahan pada mindset kaum muslimin saat itu dalam memandang masalah. Bukankah Pancasila adalah perjanjian terbuka. Makanya seluruh aliran dimasukkan disini jadi konsensus bersama. Sila pertama cuma 2 yaitu asas religiusitas: semua org Indonesia Beragama. Maka yang dipakai adalah kalimat umum: ketuhanan yang Maha Esa. Karena Indonesia terlalu beragam. Dan karena pimpinan Indonesia saat itu menganut sosialis

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Asasnya keadilan, ga ada kata kemakmuran karena kultur kita lebih berinterpretasi pada pemerataan daripada kemakmkuran. Baru ada di mukadimah UUD. Kita lihat ketika pancasila lahir, begitulah situasinya.
Ditanya PKS asasnya Pancasila atau Islam? Saya tanya apakah itu pertanyaan? Ini semua sudah selesai 3x. Pancasila adalah konsensus bersama. Selesai. Kenyataannya, sekarang pancasila ga dilirik lagi oleh anak muda. Maka PKS saatnya mentakeover seluruh isu nasionalisme (applause…). Jangan lagi jadi pertanyaan.
Ini semagnat sinkretisme di budaya jawa karena kalau antum lihat semua agama pernah lahir di Jawa. Beruntunglah sudah ada hindu dan budha, lalu Islam datang langsung jadi mayoritas. Kristen datang tapi jumlah penganutnya tidak terlalu berkembang.
Islam masuk melalui jalur niaga. Pedagang-pedagang arab. Mereka berdagang, dilihat akhlaknya bagus lalu kawin dengan anak raja. Lalu jadi raja. Begitulah Islam jadi mayoritas. Ini diceritakan dengan runtut oleh seorang penulis dari Australia. Dari abad 13 sampai dengan sekarang bisa dibilang seluruhnya adalah sejarah islam. Tapi common platform: seperti rasulullah ketika memfutuhkan mekkah. Persepsi awalnya orang-orang ini akan menyerang kita.
Mereka harus diredam semangat permusuhannya. Siapapun yang menyerang madinah, yang paling mungkin diserang adalah orang Islam. Tapi kepada Yahudi, kaum kafir di Madinah, Rasulullah bilang kita semua diperangi

Wa mualafati qulubuhum. Ada orang yang perlu dilembut-lembutkan hatinya. Pakai apa? Pakai fulus.
Pancasila = common platform. Ketegangan ini lebih karena semangat orde baru memaksakan asas tunggal dan karena islam sudah lama termarjinalisasi. Dan orang Islam seperti melihat Negara di kejauhan.
Di harlah pancasila ada ikhwah pakai kopiah putih. Ditanya kok ga pake kopiah hitam? Dia jawab urusan saya bukan sama pancasila, urusan saya sama quran dan sunnah. Bagaimana mempertahankan mindset ini pada saat yang sama kita yang harus mengisi ruang kosong yang ada sekarang

Tahun 2008 kita ingin membuka sekat-sekat islam dan nasionalisme. Sekarang bukan lagi menghilangkan sekatnya tapi take over agar kita bukan cuma bicara atas nama umat tapi atas nama bangsa keseluruhan.
Oleh karenanya perlu memperdalam tsaqofah nasionalisme. Untuk memperkuat semangat memiliki negara ini. Kita bukan orang luar. Kita ini orang dalam. Ahlul bayt Negara ini. Sifat-sifat, perasaan ini, yang harus dihilangkan. Salah satu sebab kemenangan adalah hilangnya kepercayaan pada partai-partai lama. Tapi pertanyaannya adalah apakah PKS bisa mewakili semua pihak bukan hanya dirinya sendiri

1999 kita ikut sidang baru dikasih hak bicara. Kita belum memimpin sidang. Sekarang punya hak mengambil keputusan. Apa kerjanya kalau belum menguasai Negara? Mengangkat orang agar menguasai jabatan.

Wallahu alam