Monday, November 21, 2011

SURGA dan TINGKATANNYA

TINGKATAN SURGA BEDASARKAN AL-HADIST
Diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Atha' bin Yassar, dari Mu'adz bin Jabal bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, surga itu ada seratus tingkatan, dan setiap tingkatannya jaraknya antara bumi dan langit. Tingkatan yang paling tinggi ialah surga Firdaus, dan yang paling utama juga surga Firdaus. Daripadanyalah mengalir sungai-sungai surga. Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus." Kata Tirmidzi, Atha' bin Yassar itu tidak mendapati Mu'adz bin Jabal." Tetapi setahu saya, hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah secara sahih dan dengan isnad yang muttasil, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya. 

“Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia  ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali.Kemudian mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidaklayak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Alloh, dan akuberharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka dia berhak mendapatkan syafa’atku.”(HR. Muslim) 
Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An'am, dari Utbah bin Ubaid adh-Dhabyi, dari seorang perawi yang meriwayatkan hadits ini kepadanya bahwa seseorang datang kepada Nabi saw dan bertanya, "Wahai Rasulullah, ada berapa tingkatan di surga?" Beliau menjawab, "Seratus tingkatan. Jarak masing-masing tingkat adalah setinggi bumi dan langit. DI tingkat pertama, kamar, rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari perak. DI tingkat kedua, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari emas. Dan di tingkat ketiga, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya juga terbuat dari permata, mutiara, dan zamrud. Sedangkan, sembilan puluh tujuh tingkatan lainnya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah."
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan. Seandainya seluruh makhluk alam berkumpul di salah satu tingkatannya saja, masih cukup menampung mereka. " Kata Tirmidzi, hadits ini gharib.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, "Ketika seseorang yang rajin membaca Al-Qur`an dimasukkan dalam surga, dikatakan, Bacalah dan naiklah.' Ia pun membaca sambil naik dengan setiap ayat satu tingkatan sampai akhirnya ia membaca ayat terakhir yang ada bersamanya."
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah bersabda, "Dikatakan kepada orang yang tekun membaca Al-Qur'an, Bacalah dan naiklah dengan pelan-pelan, seperti kamu membacanya sewaktu di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada ayat terakhir yang kamu baca."
Diriwayatkan oleh Abu Hafash Umar bin Abdul Majid al-Qarsyi al-Mayanisyi dalam kitabnya Al-Ikhtiyar Fi al-Malah Min al Akhbay Wa al-Atsar dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. bersabda, "Tingkatan-tingkatan surga itu sesuai dengan ayat AI-Qur'an, dan setiap ayat satu tingkatan. Padahal di dalam Al-Quran itu terdapat enam ribu dua ratus enam belas nyat. Jarak antara masing-masing tingkatan adalah seperti kira-kira antara langit dan bumi, dan berakhir pada puncak Iliyyin yang memiliki tujuh puluh ribu tiang terbuat dari intan permata yang sanggup menerang: jarak sejauh perjalanan selama tiga hari tiga malam."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah bahwa Aisyah berkata, "Sesungguhnya jumlah ayat Al-Qur'an itu sesuai dengan jumlah tingkatan surga. Tidak ada seorang pun penghuni surga yang lebih utama daripada orang yang rajin membaca Al-Qur'an." Demikian dituturkan oleh al-Makki.
Menurut para ulama ahli sunnah wal jamaah, orang-orang yang hafal Al-Qur'an dan orang-orang rajin membacanya, adalah yang tahu akan hukum-hukum halal haramnya dan yang sekaligus mengamalkannya. Menurut Malik, ada sementara orang yang rajin membaca Al-Qur'an, tetapi ia tidak memiliki kebajikan sama sekali karena ia tidak ikhlas, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya dalam hadits alAbbas bin Abdul Muthalib dan juga hadits Abu Hurairah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Hadbah alias Ibrahim bin Hadbah, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain tetapi ia tidak mengamalkan isinya atau bahkan membelokkannya, maka Al-Qur an akan menjadi saksi dan penuntunnya ke jahanam. Dan barangsiapa mempelajari Al-Quran lalu ia mengamalkan isinyq maka Al-Quran akan menjadi saksi dan penuntunnya ke surga."
Disebutkan dalam Shahih Bukhari, Sesungguhnya perumpamaan orangmukmi yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya adalah seperti buah limau, rasanya manis dan baunya sedap. Dan orang mukmin yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya adalah seperti buah korma, rasanya manis namun tidak ada baunya."
Secara panjang lebar masalah ini saya ulas dalam kitab Qari' Al-Qur'an Wa Ahkamihi, kitab At-Tidzkar Fi Fadhli al-Adzkay dan pada bagian mukadimah kitab jami' Ahkam Al-Qur`an. Sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya bahwa surga itu memiliki seratus tingkatan, dan Allah menyediakannya buat orang-orang yang berjihad pada jalan-Nya. Jihad memang dijanjikan seratus derajat surga, tetapi membaca Al-Qur'an dijanjikan seluruh derajat yang ada di dalamnya. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Dermawan agar bisa melakukan itu dengan ikhlas.
urga Firdaus

Surga Firdaus ini diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Tentang calon penghuninya, dijelaskan dalam surat Al-Mukminuun berikut ini.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Mukminuun [23]: 1-11)

Macam-macam surga dan penghuninya

Surga ‘AdnSurga ‘Adn ini diciptakan oleh Allah Swt. dari intan putih. Calon penghuni Surga ‘Adn antara lain:

1. Orang yang bertakwa kepada Allah Swt.
“(Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. An-Nahl [16]: 31-32)

2. Orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Q.S. Thaahaa [2]: 75-76)

3. Orang yang banyak berbuat baik.
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.” (Q.S. Fathir [35]:32-33)

4. Orang yang sabar, menginfakkan hartanya dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 22-23)

Surga Na’im
Surga Na’im diciptakan oleh Allah Swt. dari perak putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang benar-benar bertakwa dan beramal saleh. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 34)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.S. Luqman [31]: 8)

“Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 56)

Surga Ma’wa
Surga Ma’wa diciptakan oleh Allah Swt dari zamrud hijau. Calon penghuninya adalah:

1. Orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 19)

2. Orang-orang yang takut pada kebesaran Allah Swt. dan menahan diri dari hawa nafsu buruk.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Naazi‘aat [79]: 40-41)

Surga Darussalam
Surga Darussalam diciptakan oleh Allah Swt dari yakut merah. Calon penghuninya adalah orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, mengamalkannya ayat-ayat Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, serta mengerjakan amal saleh lainnya karena Allah Swt. Firman-Nya,

“Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 127)

Surga Darul Muqamah
Surga Darul Muqamah diciptakan oleh Allah Swt. dari permata putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang melakukan banyak kebaikan. Firman-Nya,

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.’” (Q.S. Faathir [35]: 34-35)

Surga Al-Maqaamul Amin
Surga Al-Maqaamul adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Calon penghuninya adalah orang-orang yang sangat beriman (muttaqien), yaitu yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 51)

Surga Khuldi
Surga Khuldi adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari marjan merah dan kuning. Calon penghuninya adalah orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.’” (Q.S. Al-Furqan [25]: 15)

Tuesday, November 15, 2011

Definisi Iman dan Islam

Pembahasan seputar iman adl sangat penting sebab iman menjadi satu istilah yg syar’i dan agung di dlm syariat. Secara bahasa iman berarti pembenaran yg pasti dan tdk terkandung keraguan di dalamnya. Pembenaran yg dimaksud dari iman ini meliputi dua perkara yaitu membenarkan segala berita perintah dan larangan serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya.
Adapun secara istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah berpemahaman bahwa iman adl ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan amalan dgn anggota badan. Sebagian mereka ada pula yg mendefinisikan iman dgn ‘ucapan dan amalan’ atau ‘ucapan amalan dan niat’ namun semua pengertian tentang iman ini tidaklah saling bertentangan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mereka terkadang mengatakan bahwa iman adl ‘ucapan dan amalan’ atau iman adl ‘ucapan amalan dan niat’ terkadang juga mengatakan bahwa iman adl ‘ucapan amalan niat dan mengikuti As-Sunnah’ tapi adakala mengatakan bahwa iman itu ‘ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan amalan dgn anggota badan’ dan semua makna iman di atas adl benar adanya.”
Beliau melanjutkan: “Sesungguh yg mengatakan bahwa iman adl ‘ucapan dan amalan’ mk yg dimaksud adl ucapan hati dan lisan kemudian amalan hati dan anggota badan. Adapun yg menambah dgn kata ‘i’tiqad ’ adl krn memandang bahwa ucapan itu tdk dapat dipahami dari kecuali ucapan zhahir atau khawatir akan dipahami seperti itu mk ditambahlah kata i’tiqad dlm hati.
Sementara yg menyatakan iman sebagai ‘ucapan amalan dan niat’ dikarenakan suatu amalan tidaklah dapat dikatakan sebagai amalan kecuali dgn ada niat. Karena itu ditambahlah kata niat padanya. Kemudian yg menambahkan kata ‘mengikuti As-Sunnah’ ke dlm makna iman krn hal tersebut tidaklah dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn mengikuti As-Sunnah.”
Iman jika disebutkan secara mutlak dlm kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mk akan mencakup penunaian atas hal-hal yg diwajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yg haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللهِ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِي كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيْمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kamu dlm beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kapada keimanan dan menjadikan iman itu indah dlm hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang2 yg mengikuti jalan yg lurus.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Sesungguh jawaban orang2 mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan ‘kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang2 yg beruntung.”
Dari sini nampak jelas ada keterkaitan yg kuat antara iman dgn amal. Karena itu di dlm Al-Qur`an Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menguraikan persoalan ini. Di antara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman dgn ayat-ayat Kami adl orang2 yg apabila diperingatkan dgn ayat-ayat mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Rabb sedang mereka tdk menyombongkan diri.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman hanyalah orang2 yg beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tdk ragu-ragu dan mereka berjihad dgn harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang2 yg benar.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
لاَ يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِيْنَ. إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ
“orang2 yg beriman kepada Allah dan hari kemudian tdk akan meminta izin kepadamu utk berjihad dgn harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang2 yg bertakwa. Sesungguh yg akan meminta izin kepadamu hanyalah orang2 yg tdk beriman kepada Allah dan hari kemudian dan hati mereka ragu-ragu krn itu mereka selalu bimbang dlm keraguannya.” . Dan ayat-ayat lainnya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa iman yg diserukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adl Islam yg Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai dien-Nya. Ini menunjukkan ada keterkaitan pula antara iman dgn Islam.
Al-Imam Az-Zuhri rahimahullahu dan yg lain dari kalangan Ahlus Sunnah mengatakan: “Amal masuk dlm kategori iman sedangkan Islam adl bagian dari iman.”
Iman Islam dan Amal
Iman Islam dan amal shalih seringkali penyebutan dibarengkan dlm Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang iman juga disatukan penyebutan dgn orang- orang yg berilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang2 yg berilmu masuk dlm jajaran orang2 yg beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِيْنَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِيْنَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِيْنَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِيْنَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْـمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْـمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا
“Sesungguh laki2 dan perempuan yg muslim laki2 dan perempuan yg mukmin laki2 dan perempuan yg tetap dlm ketaatan laki2 dan perempuan yg benar laki2 dan perempuan yg sabar laki2 dan perempuan yg khusyu’ laki2 dan perempuan yg bersedekah laki2 dan perempuan yg berpuasa laki2 dan perempuan yg memelihara kehormatan laki2 dan perempuan yg banyak menyebut nama Allah Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. فَمَا وَجَدْنَا فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Lalu Kami keluarkan orang2 yg beriman yg berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tdk mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang2 yg berserah diri .”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam adl engkau bersaksi bahwa tdk ada ilah yg berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adl utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau telah memiliki kemampuan utk itu.”
Beliau bersabda lagi: “Iman adl engkau beriman kepada Allah malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta beriman kepada qadar yg baik dan buruknya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguh orang2 yg beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adl sebaik-baik makhluk.”
وَقَالَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَاْلإِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Dan berkata orang2 yg diberi ilmu pengetahuan dan keimanan : ‘Sesungguh kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit mk inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tdk meyakininya’.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang2 yg beriman di antaramu dan orang2 yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“Dan orang2 yg mendalam ilmu berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yg mutasyabihat semua itu dari sisi Rabb kami’.”
لَكِنِ الرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ
“Tetapi orang2 yg mendalam ilmu di antara mereka dan orang2 mukmin mereka beriman kepada apa yg telah diturunkan kepadamu dan apa yg telah diturunkan sebelummu.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Ketika kata iman dan Islam menyatu penyebutan mk Islam adl amalan-amalan yg dzahir seperti dua kalimat syahadat shalat zakat dan shaum serta haji dan yg lainnya. Sedangkan iman adl apa yg ada dlm hati seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta yg lainnya.”
Adakala kata iman disebutkan tersendiri tanpa dibarengi kata Islam amal shalih maupun kata-kata lainnya. dlm keadaan ini mk secara otomatis telah masuk ke dlm Islam dan amal shalih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada 63 atau 73 cabang. Yang paling afdhal adl ucapan Laa ilaha illallah dan yg paling rendah adl menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adl cabang dari iman.”
Seluruh hadits yg menyebutkan amalan-amalan yg baik sebagai bagian dari iman menunjukkan akan hal ini.
Perbedaan Iman dan Islam
Islam adl dien. Dan kata “dien” merupakan bentuk mashdar1 dari asal kata دَانَ – يَدِ يْنُ yg bermakna tunduk dan merendah.
Dien Islam yg Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai dan utus dengan para Rasul adl penyerahan diri hanya kepada-Nya saja. mk landasan di dlm hati ialah ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn beribadah hanya kepada-Nya saja tanpa kepada yg lain. Barangsiapa menyembah-Nya dan menyembah ilah yg lain tidaklah menjadi seorang muslim. Dan barangsiapa enggan menyembah-Nya bahkan menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya mk tidaklah menjadi seorang muslim. Inti Islam adl berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tunduk kepada-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya. Kemudian pada prinsip Islam adl bagian dari bab amalan yakni amalan hati dan anggota badan.
Adapun iman landasan adl tashdiq iqrar dan ma’rifat . Iman adl bagian dari ucapan hati yg mencakup amalan hati dan landasan adl tashdiq. Sedangkan amal adl perkara yg mengikutinya.
Oleh sebab itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan kata ‘iman’ dgn keimanan hati dan ketundukan yakni beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Sedangkan kata ‘Islam’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tafsirkan dgn penyerahan/penerimaan yg khusus yakni terhadap bangunan-bangunan yg lima. Demikianlah dlm seluruh pernyataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menafsirkan iman dgn itu dan Islam dgn ini.
Iman Bertambah dan Berkurang
Pemahaman tentang iman bertambah dan berkurang adl pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah secara utuh. Bahkan Al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullahu menegaskan bahwa ahli hadits dan fiqih telah sepakat menetapkan bahwa iman adl ucapan dan amalan tdk ada amalan kecuali dgn niat dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu dlm Syarhus Sunnah mengatakan: “Barangsiapa berkata bahwa iman adl ucapan dan amalan bertambah dan berkurang mk ia telah terbebas dari keyakinan irja` secara menyeluruh.”
Dalil-dalil yg menerangkan bertambah dan berkurang iman sangatlah banyak baik dari Al-Qur`an As-Sunnah ataupun ucapan para salaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِي قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوا إِيْمَانًا مَعَ إِيْمَانِهِمْ
“Dia-lah yg telah menurunkan ketenangan ke dlm hati orang2 mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka .”
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلاَّ مَلاَئِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلاَّ فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِيْمَانًا ..
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan orang kafir supaya orang2 yg diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yg beriman bertambah imannya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Adapun orang2 yg beriman mk surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman itu adl mereka yg apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kapada Rabb-nyalah mereka bertawakal.”
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُوْنَ اْلأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيْمَانًا وَتَسْلِيْمًا
“Dan tatkala orang2 mukmin melihat golongan-golongan yg bersekutu itu mereka berkata: ‘Inilah yg dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yg demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa di antara kalian yg melihat kemungkaran hendak ia ubah dgn tangannya. Jika tdk mampu mk dgn lisan dan jika tdk mampu mk dgn hati dan itu adl selemah-lemah iman.”
Dari ‘Umair bin Habib berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang.” Ia ditanya: “Apa tanda bertambah dan berkurangnya?” Beliau menjawab: “Jika kita ingat Allah k lalu memuji dan menyucikan-Nya mk itulah bertambahnya. Dan bila kita lalai melupakan dan tdk menghiraukan-Nya mk itulah tanda berkurangnya.”
Demikian uraian singkat mengenai hakikat iman semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi kita semua kebenaran iman dan kekokohannya.
Wallahu a’lam.
1 Silakan lihat pembahasan mudah tentang mashdar dlm buku kami Pengantar Mudah Belajar Bahasa Arab.
Sumber:http://blog.re.or.id/hakikat-iman.htm dari www.asysyariah.com

Friday, November 4, 2011

TATA CARA SHOLAT IED

Dalam Islam setiap amalan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah sudah ada contoh dari Rasulullah SAW, sehingga kita tidak perlu membuat kreasi atau memberikan penafsiran sendiri yang mungkin saja dapat keliru. Itulah indahnya Islam semuanya telah diatur dengan jelas. Berikut ini tata cara Shalat Id menurut Syaikh Ali bin Hasan Ali Abdul Hamid sebagai bahan kajian, semoga ada menfaatnya.
WAKTU PELAKSANAAN SHALAT IDSyaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Berkata Ibnul Qayyim :“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Dan adalah Ibnu Umar -dengan kuatnya upaya dia untuk mengikuti sunnah Nabi- tidak keluar hingga matahari terbit” [Zadul Ma'ad 1/442] Shiddiq Hasan Khan menyatakan :Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah setelah tingginya matahari seukuran satu tombak sampai tergelincir. Dan terjadi ijma (kesepatakan) atas apa yang diambil faedah dari hadits-hadits, sekalipun tidak tegak hujjah dengan semisalnya. Adapun akhir waktunya adalah saat tergelincir matahari” [Al-Mau'idhah Al-Hasanah 43,44] Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi :Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat Idul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat Idul Fithri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka” [Minhajul Muslim 278]Peringatan : Jika tidak diketahui hari Id kecuali pada akhir waktu maka shalat Id dikerjakan pada keesokan paginya. Abu Daud 1157, An-Nasa’i 3/180 dan Ibnu Majah 1653 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal (bulan tanggal satu) kemarin, maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka dan pergi ke mushalla mereka keesokan paginya”
SHALAT ID TANPA AZAN DAN IQAMAH
Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata :“Artinya : Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari sekali dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah” [Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532]Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu ‘anhum berkata :“Artinya : Tidak pernah dikumandangkan azan (untuk shalat Id -pent) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha” [Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532]Berkata Ibnul Qayyim :“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tiba di mushalla (tanah lapang), beliau memulai shalat tanpa azan dan tanpa iqamah, dan tidak pula ucapan “Ash-Shalatu Jami’ah“. Yang sunnah semua itu tidak dilakukan. [Zaadul Ma'ad 1/442]Imam As-Shan’ani berkata dalam memberi komentar terhadap atsar-atsar dalam bab ini :“Ini merupakan dalil tidak disyariatkannya azan dan iqamah dalam shalat Id, karena (mengumandangkan) azan dan iqamah dalam shalat Id adalah bid’ah” [Zaadul Ma'ad 1/442]
 
TATA CARA SHALAT ID
Pertama Jumlah raka’at shalat Id ada dua berdasaran riwayat Umar radhiyallahu ‘anhu. “Artinya : Shalat safar itu ada dua raka’at, shalat Idul Adha dua raka’at dan shalat Idul Fithri dua raka’at. dikerjakan dengan sempurna tanpa qashar berdasarkan sabda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Dikeluarkan oleh Ahmad 1/370, An-Nasa'i 3/183, At-Thahawi dalam Syarhu Ma'anil Al Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya Shahih]
Kedua : Rakaat pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal (takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain,-pent) Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata :“Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku” [1]1 Berkata Imam Al-Baghawi :“Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada rakaat pertama shalat Id sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya” [Ia menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam " Syarhus Sunnah 4/309. Lihat 'Majmu' Fatawa Syaikhul Islam' 24/220,221]
Ketiga : Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat Id[2] 2Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata : “Ibnu Umar -dengan semangat ittiba’nya kepada Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir” [Zadul Ma'ad 1/441] Aku katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam “Tamamul Minnah” hal 348 : “Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam shalat Id diriwayatkan dari Umar dan putranya -Radhiyallahu anhuma-, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di sini tidak shahih.Adapun dari Umar, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif (lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang”Dalam ‘Ahkmul Janaiz’ hal 148, berkata Syaikh kami :“Siapa yang menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka silakan ia untuk mengangkat tangan ketika bertakbir”.
Keempat : Tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu dzikir tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir Id. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu [33] tentang hal ini. Ibnu Mas’ud berkata :“Artinya : Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla”Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah :“(Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut”.Aku katakan : Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua tangan bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini.
Kelima : Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar[44] Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca surat Al-A’la dan surat Al-Ghasyiyah[5]5 Berkata Ibnul Qaooyim Rahimahullah :“Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini, dan tidak shahih dari belaiu selain itu”[6]6
Keenam : (Setelah melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak berbeda sedikitpun. [77]
Ketujuh : Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Id berjama’ah, maka hendaklah ia shalat dua raka’at. Dalam hal ini berkata Imam Bukhari Rahimahullah dalam “Shahihnya” :“Bab : Apabila seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua raka’at” [Shahih Bukhari 1/134, 135]Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” 2/550 berkata setelah menyebutkan tarjumah ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di atas).Dalam tarjumah ini ada dua hukum :1.       Disyariatkan menyusul shalat Id jika luput mengerjakan secara berjamaah, sama saja apakah dengan terpaksa atau pilihan.2.      Shalat Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka’atBerkata Atha’ : “Apabila seseorang kehilangan shalat Id hendaknya ia shalat dua rakaat” [sama dengan di atas] Al-Allamah Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan :“Ini adalah madzhabnya Syafi’i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Id bersama imam, maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan keutamaan shalat Id sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan imam”.Adapun menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla[88] untuk shalat Id. Kalau kehilangan shalat bersama imam, maka telah hilang sama sekali”[99]Berkata Imam Malik dalam ‘Al-Muwatha’ [10]10“Setiap yang shalat dua hari raya sendiri, baik laki-lai maupun perempuan, maka aku berpendapat agar ia bertakbir pada rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca (Al-Fatihah) dan lima kali pada raka’at kedua sebelum membaca (Al-Fatihah)”Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain [Al-Mughni 2/212]Kedelapan : Takbir (shalat Id) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan [1111] Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
HUTBAH SETELAH SHALAT ID Termasuk sunnah dalam khutbah Id adalah dilakukan setelah shalat. Dalam permasalahan ini Bukhari membuat bab dalam kitab ‘Shahih’nya [1] 1: “Bab Khutbah Setelah Shalat Id”.Ibnu Abbas berkata :“Artinya : Aku menghadiri shalat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]Ibnu Umar berkata :“Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar menunaikan shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 888, At-Tirmidzi 531, An-Nasa'i 3/183, Ibnu Majah 1276 dan Ahmad 2/12 dan 38]Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan ketika mengomentari bab yang dibuat Bukhari di atas [22] :“Yakni : Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diamalkan Al-Khulafaur Rasyidin adalah khutbah setelah shalat. Adapun perubahan yang terjadi -yang aku maksud adalah mendahulukan khutbah dari shalat dengan mengqiyaskan dengan shalat Jum’at- merupakan perbuatan bid’ah yang bersumber dari Marwan” [Dia adalah Marwan Ibnul Hakam bin Abil 'Ash, Khalifah dari Banni Umayyah wafat tahun 65H, biografinya dalam 'Tarikh Ath-Thabari 7/34]Berkata Imam Tirmidzi [3] 3:“Yang diamalkan dalam hal ini di sisi ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka adalah shalat Idul Fithri dan Adha dikerjakan sebelum khutbah. orang pertama yang berkhutbah sebelum shalat adalah Marwan bin Al-Hakam” [Lihat kitab Al-Umm 1/235-236 oleh Imam ASy-Syafi'i Rahimahullah dan Aridlah Al-Ahwadzi 3/3-6 oleh Al-qadli Ibnul Arabi Al-Maliki] Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah” [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa'i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54] Khutbah Id sebagaimana khutbah-khutbah yang lain, dibuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Yang Maha Mulia.Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah :“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka semua khutbahnya dengan pujian untuk Allah. Tidak ada satu hadits pun yang dihafal (hadits shahih yang menyatakan) bahwa beliau membuka khutbah Idul Fitri dan Adha dengan takbir. Adapaun yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ‘Sunan’nya[4] 4dari Sa’ad Al-Quradhi muadzin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau memperbanyak bacaan takbir dalam khutbah dua Id, hal itu tidaklah menunjukkan bahwa beliau membuka khutbahnya dengan takbir” [Zadul Ma'ad 1/447-448]Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khutbah Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk.Riwayat yang ada tentang hal ini lemah sekali. Al-Bazzar meriwayatkan dalam “Musnad”nya (no. 53-Musnad Sa’ad) dari gurunya Abdullah bin Syabib dengan sanadnya dari Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan dua khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk.Bukhari berkata tentang Abdullah bin Syabib : “Haditsnya mungkar” Maka khutbah Id itu tetap satu kali seperti asalnya.Menghadiri khutbah Idtidaklah wajib seperti menghadiri shalat, karena ada riwayat dari Abdullah bin Saib, ia berkata :“Artinya : Aku menghadiri Id bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat, beliau bersabda : ‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah” [Diriwayatkan Abu Daud 1155, An-Nasa'i 3/185, Ibnu Majah 1290, dan Al-Hakim 1/295, dan isnadnya Shahih. Lihat Irwaul Ghalil 3.96-98]Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah [5] 5:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang meghadiri shala Id untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi” [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam 24/214]

1Yakni waktu shalat sunnah, ketika telah lewat waktu diharamkannya shalat. lihat Fathul Bari 2/457 dan An-Nihayah 2/3312 Bukhari menyebutkan hadits ini secara muallaq dalam shahihnya 2/456 dan Abu Daud meriwayatkan secara bersambung 1135, Ibnu Majah 1317, Al-Hakim 1/295 dan Al-Baihaqi 3/282 dan sanadnya Shahih1 Riwayat Abu Daud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya Shahih. Peringatan : Termasuk sunnah, takbir dilakukan sebelum membaca (Al-Fatihah). sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud 1152, Ibnu Majah 1278 dan Ahmad 2/180 dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Id tujuh kali pada rakaat pertama kemudian beliau membaca syrat, lalu bertakbir dan ruku’ , kemudian beliau sujud, lalu berdiri dan bertakbir lima kali, kemudian beliau membaca surat, takbir lalu ruku’, kemudian sujud”. Hadits ini hasan dengan pendukung-pendukungnya. Lihat Irwaul Ghalil 3/108-112. Yang menyelisihi ini tidaklah benar, sebagaimana diterangkan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/443,4442Lihat Irwaul Ghalil 3/112-1143 Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus4 Diriwayatkan oleh Muslim 891, An-Nasa’i 8413, At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah 1282 dari Abi Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘ahu5 Diriwayatkan oleh Muslim 878, At-Tirmidzi 533 An-Nasa’i 3/184 Ibnu Majah 1281 dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu6 Zadul Ma’ad 1/443, lihat Majalah Al-Azhar 7/193. Sebagian ahli ilmu telah berbicara tentang sisi hikmah dibacanya surat-usrat ini, lihat ucapan mereka dalam ‘Syarhu Muslim” 6/182 dan Nailul Authar 3/2977 Untuk mengetahui hal itu disertai dalil-dalilnya lihat tulisan ustadz kami Al-Albani dalam kitabnya ‘Shifat Shalatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab ini dicetak berkali-kali. Dan lihat risalahku ‘At-Tadzkirah fi shifat Wudhu wa Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, risalah ringkas.8 Tidak dinamakan ini qadla kecuali jika keluar dari waktu shala secara asal9 Syarhu Tarajum Abwabil Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu 5/27-2910Nomor : 592 -dengan riwayat Abi Mush’ab.11Al-Mughni 2/244 oleh Ibnu Qudamah1Kitabul Iedain, bab nomor 8. Lihat Fathul Bari 2/4532 Syrahu Tarajum Abwabil Bukhari 793 Dalam Sunan Tirmidzi 2/4114Dengan nomor 1287, dan diriwayatkan juga oleh Al-Hakim 3/607, Al-Baihaqi 3/299 dari Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin Sa’ad  muadzin. Abdurrahman berkata : “Telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari kakeknya …” lalu ia menyebutkannya. Riwayat ini isnadnya lemah, karena Abdurrahman bin Sa’ad rawi yang dhaif, sedangkan bapak dan kakeknya adalah rawi yang majhul (tidak dikenal)5 Zadul Ma’ad 1/448(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “Malam Lailatul Qadar”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid)

Tuesday, November 1, 2011

IHTISAAB

Hari yang semakin hilang, tak jarang hati enggan menjelang.....
Wahai jiwa yang gelisah, harusnya engkau makin tergugah
Menapak hari demi hari, jam demi jam bahkan detik demi detik
Tiada waktu sedikitpun terbuang,
Aneh....
Kau malah tinggalkan seruan kekasih Tuhan...
Kau tidak pekak kan?? kau tidak buta kan ??
Rowatibmu, Shoum sunnahmu, Tahajudmu, Shodaqohmu....mana, mana!!!???
Kau malah disibukkan oleh urusan hati dan duniamu....
Dengan berdalih, ahh ! prioritas..!! Ini juga ibadah !! Iya kah?? setulus itu jua kah???
kan sholat bisa nanti, kan shoum juga bisa nanti, kan tahajjud bisa nanti.

astaghfirullah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Di sisi lain, kamu sudah merasa cukup dengan ibadahmu...
mentang-mentang sudah tahajjud, mentang-mentang sudah sering shoum sunnah, mentang-mentang sudah banyak shodaqoh....
Emang ibadahmu diterima? gak ada riya' disana? kau benar-benar ikhlash melaksanakannya?
kamu kira kamu bisa ini bisa itu hanya atas usahamu saja...????

TIDAKKKK !!!!! HANYA KARENA KASIH SAYANG DAN RAHMAT ALLAH SAJA KAMU BISA BEGINI DAN BISA BEGITU....