Friday, August 5, 2011

FASE PERJALANAN MANUSIA


Dalam perjalanan hidupnya manusia akan melalui 7 [tujuh] tahap perjalanan hingga akhirnya mendapat kemenangan bertemu dengan Allah dan mendapat kesenangan di taman syurga atau menderita kekalahan terpuruk dilembah neraka. Tiap tahap ditempuh dalam waktu yang berbeda mulai dari hitungan beberapa bulan hingga ribuan tahun.
1. ALAM RUH
Perjalanan hidup manusia dimulai dari alam ruh ketika Allah mengumpulkan sekalian ruh manusia yang akan diturunkan kebumi dan berfirman:
” Bukankah Aku ini Tuhanmu “, Kemudian para ruh menjawab:
“Betul Engkaulah Tuhan Kami … “ Kejadian ini dikisahkan dalam Surah Al-A’Raaf , ayat 172
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al-A’Raaf: 172)
2. ALAM RAHIM
Setelah membuat kesaksian tentang Allah selanjutnya satu persatu ruh tersebut dihembuskan Allah kedalam Rahim ibu sebagaimana disebutkan dalam Surah As-Sajadah, ayat 9:
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Sejak itu mulailah manusia memasuki tahap kedua dari perjalanan hidupnya. Kurang lebih selama 9 bulan janin manusia menetap di rahim ibu untuk kemudian setelah tiba waktunya lahir ke dunia menjadi seorang bayi.
3. ALAM DUNIA
Sejak lahir kedunia mulailah manusia memasuki tahap ketiga dari perjalanan hidupnya. Manusia hidup didunia dengan umur yang beragam mulai dari yang hidup hanya beberapa saat hingga yang hidup puluhan tahun bahkan ada yang lebih dari 100 tahun. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang pertama bagi manusia. Allah menjadikan dua kali kehidupan dan dua kali kematian bagi manusia sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah, ayat 28:
Bagaimana kamu tergamak kufur (mengingkari) Allah padahal kamu dahulunya mati (belum lahir), kemudian Ia menghidupkan kamu; setelah itu Ia mematikan kamu, kemudian Ia menghidupkan kamu pula (pada hari akhirat ) ….
Hidup yang pertama adalah kehidupan dunia dan hidup yang kedua adalah kehidupan akhirat, sedangkan mati yang pertama adalah ketika masih di alam ruh dan mati yang kedua ketika memasuki alam barzakh.
Kehidupan dunia adalah kehidupan yang menentukan apakah seseorang akan mendapat kebaikan atau kesengsaraan dialam akhirat. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan godaan dan tipuan, orang yang tidak kuat imannya niscaya akan terjebak dalam tipu daya syetan hingga berkekalan dalam dosa dan perbuatan yang dimurkai Allah.
Akhir dari kehidupan dunia adalah kematian dengan husnul khotimah atau su’ul khotimah.
Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang yang tiada akhirnya, dimulai dari perjalanan di alam barzakh [kubur]
4. ALAM KUBUR [BARZAKH]
Jika kematian datang menghampiri seseorang maka putuslah hubungannya dengan kehidupan dunia.
Harta yang banyak, pangkat dan kehormatan, sanak saudara dan karib kerabat semua ditinggalkan. Hanya amal baik dan buruk itulah yang abadi menemani dengan setia sampai ke alam kubur. Amal baik seperti sholat, zakat, sedekah , wirid dan zikir, menolong orang, berjihad di jalan Allah, dan semua amalan soleh, semua itu akan membawa kebahagian dan ketenteraman di alam kubur.
Sebaliknya amal buruk seperti perbuatan dosa mendurhakai Allah melakukan perbuatan yang dilarang dan dimurkaiNya serta meninggalkan amal perbuatan yang diperintahkan semua itu akan membawa kesengsaraan di alam kubur.
Masa penantian yang penuh kesengsaraan bagi kaum pendosa dan penuh kebahagiaan bagi orang beriman di alam kubur akan berakhir pada hari kiamat kelak.
Kapan (bila) terjadinya kiamat? Tidak seorangpun yang dapat memperkirakan.
(21) Kemudian dimatikannya, lalu diperintahkan supaya ia dikuburkan;
(22) Kemudian apabila Allah kehendaki dibangkitkannya (hidup semula). (Abassa, 80: 21-22)
5. HARI KIAMAT [ KEBANGKITAN ]
Peristiwa kiamat dimulai dengan tiupan sangkakala dari malaikat Isrofil yang dikuti dengan hancurnya seluruh kehidupan dimuka bumi. Selanjutnya sunyi senyap. Kemudian pada tiupan sangkakala untuk yang kedua kalinya semua mahluk sejak bumi terbentang sampai kiamat dibangkitkan dan kumpulkan di padang mahsyar. Firman Allah dalam Surah Az-Zumar, ayat 68 :
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”
Padang mahsyar merupakan padang pasir dan bukit batu yang tandus dan kering penuh dengan batu karang yang tajam. Siang hari udaranya panas menggigit, tidak ada pohon rindang tempat berteduh, tidak ada mata air yang jernih tempat mandi dan minum. Manusia bergelimpangan dimana mana menjerit, mengeluh kepanasan dan kehausan. Sementara pada malam hari suasana gelap pekat dan dingin tiada cahaya yang menerangi, tiada selimut untuk menahan dingin.
Ditengah padang mahsyar tersebut terdapat wadi wadi yang penuh dengan pohon buah yang rindang serta mata air yang jernih dan sejuk, di dalamnya terdapat orang orang beriman dan saleh menikmati buah buahan dan mata air yang sejuk. Wadi tersebut ditutup bola kaca yang memisahkan suasana diluar bola kaca yang penuh kesengsaraan dengan keadaan didalam bola kaca [wadi] yang penuh kenikmatan dan kesenangan.
Keadaan seperti tersebut diatas dilukiskan dalam Al Qur’an Surah Al Hadid, ayat 12 – 15:
(12) (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “”Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak.”
(13) Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
(14) Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.”
(15) Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.
Manusia menunggu dipadang mahsyar selama waktu yang tak terhingga, sampai datangnya hari berhisab dimana setiap orang diperiksa dan ditimbang amal baik dan buruknya.
6. HARI BERHISAB
Pada hari berhisab setiap orang diadili, ditimbang amal baik dan buruknya tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari pemeriksaan. Orang yang baik timbangan amalnya akan menerima raport dari sebelah kanan. Dia akan kembali kepada teman dan saudaranya dengan penuh kegembiraan. Sedangkan orang yang buruk timbangan amalnya akan menerima kitab raport (buku catatan) dari belakang, dia mengeluh dan kembali kepada teman serta saudaranya dengan berkeluh kesah. Susana tersebut diatas dilukiskan dalam Surah Insyiqaq, ayat 7 – 12
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”
7. HARI PEMBALASAN
Setelah menerima raport setiap orang diperintahkan menempuh perjalanan menuju tempat abadi yang telah disiapkan untuk mereka. Tempat abadi yang diharapkan oleh setiap orang adalah taman syurga yang penuh kesenangan dan kenikmatan, namun untuk memasuki taman syurga tersebut tidak mudah karena jalan menuju taman tersebut dikeliling oleh lembah neraka yang apinya membumbung tingi bergejolak dengan suaranya bergemuruh dahsyat .
Orang yang telah menerima raport dari sebelah kanan dengan mudah dapat melalui lembah neraka yang ganas tersebut, dia tidak merasakan panasnya api neraka sedikitpun. Dia sampai ditaman syurga abadi dengan penuh kegembiraan disambut oleh penduduk syurga dengan pesta meriah, hidup kekal selamanya di sana.
Namun orang orang yang menerima raport dari sebelah belakang terpuruk dilembah neraka, dan tidak pernah bisa keluar dari situ untuk selama lamanya, Firman Allah dalam Surah Maryam ayat 68 – 72 :
Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. [68]
Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. [69]
Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. [70]
Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. [71]
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [72]
Mereka tidak punya persiapan sedikitpun untuk menghadapi kehidupan dialam barzakh maupun hari berbangkit. Dengan datangnya kematian tamatlah masa kejayaan mereka berganti dengan kesulitan dan penderitaan abadi untuk selama lamanya
Firman Allah dalam Surah Hud, ayat 15-16:
(15) Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
(16) Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? ( Hud 15-16)

Wednesday, August 3, 2011

HUKUM MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

Assalaamu`alaikum wr wb.

Semoga Ustadz Farid Nu`man beserta keluarga senantiasa sehat, dan dalam perlindungan dan pertolongan Allah. Amien.

Langsung saja,

Ana ingin bertanya tentang larangan mengajak anak-anak ke Masjid. Ana dulu sering mengajak anak ana (umur 3 th) ke Masjid, tetapi karena mendapat peringatan dari takmir untuk tidak mengajak anak-anak ke Masjid (sekitar 1 th yang lalu), maka sejak itu ana tidak pernah lagi mengajak anak ke Masjid.

Belakangan baru saya tahu ada Hadits yang kurang lebih bunyi-nya adalah: 
"Jauhkanlah Masjid dari anak-anak dan orang gila"

Pertanyaan ana:
1. Apakah Hadits tersebut shahih? bagaimana penerapannya?
2. Mohon penjelasan mengenai hal ini yang dilengkapi dengan hadits-hadits dan kisah-kisah di jaman rosul tentang mengajak anak ke Masjid.
3. Bagaimana mengkomunikasikan dengan pihak takmir Masjid?
note: perlu diketahui bahwa ana adalah warga baru di kampung tersebut.

Demikian, Syukron, Jazakumullaahu khoiron Katsieroo.
Semoga Allah memudahkan kita untuk memegang teguh syari`atNya, AMien.

Wassalaamu`alaikum wr wb. (dari hamba Allah di Purwokerto, Jawa Tengah)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’du:

Saya ucapkan jazakallah khairan atas doa antum, semoga antum dan kelurga juga demikian.

Langsung saja ke pertanyaan antum:

1. Apakah Hadits tersebut shahih? bagaimana penerapannya?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ

Jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak kalian dan orang gila.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

- Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitabul Masajid Bab Maa Yukrahu fil Masajid No. 750.

Sanadnya: berkata kepada kami Ahmad bin Yusuf As Sulami, berkata kepada kami Muslim bin Ibrahim, berkata kepada kami Al Haarits bin Nabhan, berkata kepada kami ‘Uqbah bin Yaqzhan, dari Abu Sa’id, dari Makhul, dari Waatsilah bin Al Asqa’, bahwa Rasulullah bersabda: .... (disebut hadits di atas)

Dalam sanadnya terdapat Al Haarits bin Nabhan dan Abu Sa’id (yaitu Muhammad bin Sa’id Ash Shawab). Tentang Al Haarits bin Nabhan, Imam Bukhari berkata: “Munkarul hadits – haditsnya mungkar.” (At Tarikh Al Kabir, 2/284). Sebutan Imam Bukhari untuknya, munkarul hadits, adalah sebutan yang paling buruk menurut standar Imam Bukhari.

Imam Al ‘Ijili mengatakan: “Dhaiful hadits – haditsnya lemah.” (Ats Tsiqaat, 1/278)
Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, menyebutkan dari Imam Ahmad bin Hambal tentang Al Haarits bin Nabhan, katanya: “Laki-laki shalih tetapi tidak memahami hadits dan tidak menghapalnya, haditsnya mungkar.”

Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laisa bisyai’ – dia bukan apa-apa.”
Imam Abu Hatim mengatakan: “Dhaiful hadits, matrukul hadits, munkarul hadits, - dia haditsnya lemah, ditinggalkan, dan mungkar.”

Imam Abu Zur’ah mengatakan: “Dhaiful hadits fi haditsihi wahn – lemah haditsnya, pada haditsnya ada kelemahan.” Beliau merasa heran dengan Yahya bin Ma’in yang cuma mengatakan: “bukan apa-apa.” (Lihat semua dalam Imam Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, 3/92)

Imam Abu Nu’aim mengatakan: “dhaifnya orang dhaif.” (Imam Abu Nu’aim, Adh Dhu’afa, Hal. 72, No. 43)

Imam An Nasa’i mengatakan: “Matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.”

Imam Ad Daruquthni mengatakan: “Laisa bil qawwi – bukan orang kuat.”

Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Telah keluar dari batas-batas kelayakan untuk dijadikan hujjah.” (Lihat Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 1/183, No. 726), dan masih banyak lagi yang mendhaifkannya.

Lalu, tentang Abu Sa’id, berkata Imam Ahmad Al Kinani: “Dia adalah Muhammad bin Sa’id Ash Shawab, Imam Ahmad mengatakan bahwa dia secara sengaja memalsukan hadits. Imam Bukhari mengatakan: mereka (para ulama) meninggalkannya. Imam An Nasa’i mengatakan: kadzdzaab – pendusta. (Imam Ahmad bin Abu Bakar bin Ismail Al Kinani, Mishbah Az Zujaajah, 1/95)

Oleh karenanya, segenap para imam muhadditsin melemahkan hadits ini.

- Imam Ibnu Mulqin mengatakan: “Hadits ini dhaif, dalam isnadnya terdapat Al Haarits bin Nabhan Al Bashriy Al Jurmiy.” (Al Badru Al Munir, 9/595)
- Imam Ibnu Rajab mengatakan: “Dhaif jiddan – sangat lemah”. (Fathul Bari, 2/567)
- Imam Ibnu Hajar mengatakan: “Dhaif. “ (Fathul Bari, 1/549)
- Imam As Sakhawi mengatakan: “Sanadnya dhaif.” (Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 286)
- Imam Ibnul Jauzi mengatakan: “Tidak shahih.” (Khulashah Al Badr Al Munir, 2/429)
- Imam Ash Shan’ani mengatakan: “hadits ini dhaif.” (Subulus Salam, 1/156)
- Imam Badruddin Al ‘Aini mengatakan: “dhaif.” (‘Umdatul Qari, 7/77)
- Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr mengatakan: “hadits ini dhaif.” (Syarh Sunan Abi Daud, 29/215)
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan: “Fahuwa dhaif.”(Syarh Riyadh Ash Shalihin, 1/266)
- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan: “Dhaiful isnad Jiddan –isnadnya sangat lemah.” (Ishlahul Masajid, Hal. 110. Lihat juga Al Irwa’, 7/361, At Ta’liq Ar Raghib, 1/120-121, Al Ajwibah An Nafi’ah, Hal. 55)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh:

- Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7601, juga oleh Imam Al Baihaqi dalam As Sunan As Shaghir No. 3256

Sanadnya: berkata kepada kami Abdan bin Ahmad bin Makhlad bin Rahawaih, berkata kepada kami Abu Nu’aim An Nakha’i, berkata kepada kami Al ‘Ala bin Katsir, dari Makhul, dari Abu Ad Darda, dan Abu Umamah, dan Al Waatsilah, mereka mengatakan: Kami mendengar Rasulullah bersabda: .... (disebut hadits di atas)

Dalam sanadnya terdapat Al ‘Ala bin Katsir, Imam Al Haitsami mengatakan: “dhaif.” (Majma’ Az Zawaid, 2/140)

Imam Ibnul Madini mengatakan: “Dhaif.” Imam Bukhari mengatakan: “Munkarul hadits.” Imam Ahmad mengatakan: “Bukan apa-apa.” Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “Dia meriwayatkan dari Makhul, dari sahabat, dan semuanya tidak ada yang terjaga.” (Lihat semua dalam Mizanul I’tidal, 3/492)

Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu.” (Al ‘Ilal Al Mutanahiyat, 1/403, No.677)

Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Telah disepakati kedhaifannya.” (Al Mughni Fidh Dhu’afa, 2/440)

Oleh karena itu hadits ini didhaifkan oleh Imam Az Zaila’i, Beliau mengatakan: “Sanad hadits ini dhaif.” (Nashbur Rayyah, 2/492), juga oleh Imam Ibnul Jauzi. (Al ‘Ilal Al Mutanahiyat, 1/403)

Lalu, hadits ini juga diriwayatkan oleh:

- Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20055

Sanadnya: mengabarkan kami Abu Sa’id bin Abi Amru, berkata kepada kami Abu Abdillah Ash Shafar, berkata kepada kami Ahmad bin Mihran Al Ashbahani, berkata kepada kami Abu Nu’aim (yakni An Nakha’i), bercerita kepada kami Al ‘Ala bin Katsir, dari Makhul, dari Abu Ad Darda, dan dari Waatsilah, dan dari Abu Umamah, semua meriwayatkan dan mengatakan: kami mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ........... (lalu disebut hadits di atas)

Hadits ini juga terdapat Al ‘Ala bin Katsir, yang sudah dijelaskan kedhaifannya di atas. Oleh karena itu Imam Al Baihaqi: “Al ‘Ala bin Katsir adalah orang Syam, dia munkarul hadits. Disebutkan pula dari Makhul dari Yahya bin Al ‘Ala dari Mu’adz secara marfu’, dan juga tidak shahih.” (Lihat keterangan Imam Al Baihaqi sendiri dalam As Sunan Al Kubra No. 20055)

Hadits ini juga diriwayatkan jalan lain, sebagaimana disebutkan Imam Abdul Haq, dari jalan Al Bazzar yang merupakan hadits dari Abdullah bin Mas’ud secara marfu’: “Jauhilah oleh kalian masjid dari anak-anak dan orang gila.” Imam Al Bazzar mengatakan: “Tidak ada dasarnya ucapan ini berasal dari Abdullah bin Mas’ud.” Berkata Ibnul Qaththan: “Hadits ini dan ucapan setelahnya, bukanlah termasuk sanadnya Abdullah bin Mas’ud dalam kitabnya Al Bazzar.” (Lihat Al Badru Al Munir, 9/567)

Lalu, hadits ini juga berasari dari Hatim bin Ismail, dari Abdullah bin Al Muharar, dari Yazid bin Al Asham, dari Abu Hurairah secara marfu’: ... (lalu disebut hadits di atas).

Hadits ini juga dhaif. Imam Ibnul Mulqin mengatakan tentang riwayat ini: “Abdullah (bin Al Muharar) adalah orang yang binasa, dan manusia meninggalkan haditsnya.” (Ibid)

Oleh karenanya, Imam Az Zaila’i mengatakan:

وَأَسَانِيده كلهَا ضَعِيفَة

Semua sanad-sanadnya adalah dhaif. (Ad Dirayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, 1/288)

Maka, semua jalur hadits ini adalah dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah, dan tidak pula bisa diterapkan, serta bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan kebolehan membawa anak-anak ke masjid.

2. Mohon penjelasan mengenai hal ini yang dilengkapi dengan hadits-hadits dan kisah-kisah di jaman Rasul tentang mengajak anak ke Masjid.

Riwayat yang menyebutkan membawa anak-anak ke masjid begitu banyak dan beragam. Di sini kami sebutkan beberapa saja tentang kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang membawa cucu-cucunya ketika shalat berjamaah bersama para sahabat, di antaranya:

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu shalat sambil menggendong Umamah -puteri dari Zainab binti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abul ‘Ash bin Rabi’ah bin Abdisysyams- jika Beliau sujud, beliau meletakkan Umamah, dan jika dia bangun dia menggendongnya. (HR. Bukhari No. 516, Muslim No. 543)

Riwayat lainnya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ أَنَّهُ: سَمِعَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُولُ: " إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى وأُمَامَةُابْنَةُ زَيْنَبَ ابْنَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهِيَ ابْنَةُ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى عَلَىرَقَبَتِهِ، فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ مِنْ سُجُودِهِ أَخَذَهَا فَأَعَادَهَا عَلَى رَقَبَتِهِ "

Dari Amru bin Sulaim Az Zuraqiy, bahwa dia mendengar Abu Qatadah berkata: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat sedangkan Umamah –anak puteri dari Zainab puteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga puteri dari Abu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ bin Abdul ‘Uzza - berada di pundaknya, jika Beliau ruku anak itu diletakkan, dan jika bangun dari sujud diambil lagi dan diletakkan di atas pundaknya. (HR. Ahmad No. 22589, An Nasa’i No. 827, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 7827, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 827. Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga menshahihkannya dalamTahqiq Musnad Ahmad No. 22589, dan Amru bin Sulaim mengatakan bahwa ini terjadi ketika shalat subuh)

Apa Hikmahnya?

قال الفاكهاني: وكأن السر في حمله صلى الله عليه وسلم أمامة في الصلاة دفعا لما كانت العرب تالفهمن كراهة البنات بالفعل قد يكون أقوى من القول.

“Berkata Al Fakihani: “Rahasia dari hal ini adalah sebagai peringatan (sanggahan) bagi bangsa Arab yang biasanya kurang menyukai anak perempuan. Maka nabi memberikan pelajaran halus kepada mereka supaya kebiasaan itu ditinggalkan, sampai-sampai beliau mencontohkan bagaimana mencintai anak perempuan, sampai-sampai dilakukan di shalatnya. Dan ini lebih kuat pengaruhnya dibanding ucapan.” (Fiqhus Sunah, 1/262)

Riwayat lainnya, Dari Abdullah bin Syadad, dari ayahnya, katanya:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاة العشي (الظهر أو العصر) وهو حامل(حسن أو حسين) فتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى فسجد بين ظهريصلاته سجدة أطالها، قال: إني رفعت رأسي فإذا الصبي على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلموهو ساجد فرجعت في سجودي.
فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت بين ظهريالصلاة سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر، أو أنه يوحى إليك؟ قال: (كل ذلك لم يكن، ولكنابني ارتحلني فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk shalat bersama kami untuk shalat siang (zhuhur atau ashar), dan dia sambil menggendong (hasan atau Husein), lalu Beliau maju ke depan dan anak itu di letakkannya kemudian bertakbir untuk shalat, maka dia shalat, lalu dia sujud dan sujudnya itu lama sekali. Aku angkat kepalaku, kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau sedang sujud, maka saya pun kembali sujud. Setelah shalat selesai, manusia berkata: “Wahai Rasulullah, tadi lama sekali Anda sujud, kami menyangka telah terjadi apa-apa, atau barangkali wahyu turun kepadamu?” Beliau bersabda: “Semua itu tidak terjadi, hanya saja cucuku ini mengendarai punggungku, dan saya tidak mau memutuskannya dengan segera sampai dia puas.” (HR. An Nasa’i No. 1141, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1141)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

هَذَا يَدُلّ لِمَذْهَبِ الشَّافِعِيّ - رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى - وَمَنْ وَافَقَهُ أَنَّهُ يَجُوز حَمْل الصَّبِيّ وَالصَّبِيَّة وَغَيْرهمَا

Sunday, July 31, 2011

Jadwal Imsakiyah Taipei by FORMMIT

IDUL FITRI, Kembali Kepada Fitroh…

Bagi masyarakat muslim Indonesia Idul Fitri sangat identik dengan mudik, silaturrahim, halal bihalal, baju baru, dan segala sesuatu yang baru sebagai wujud ungkapan kegembiraan akan datangnya hari raya. Momen Idul Fitri ini juga menjadi momen yang sangat fenomenal yang terjadi setiap tahun bahkan diperingati sebagai libur nasional yang paling panjang, melebihi libur Imlek yang menjadi libur nasional bagi masyarakat China. Salah satu hal yang menarik adalah pada saat Idul Fitri, perputaran uang terjadi dalam skala besar terutama pengiriman uang atau remitansi dari para TKI yang pada bulan September 2010 saja mencapai 5,03 miliar dolar AS atau sekitar Rp45,27 triliun. Pengiriman uang TKI tersebut sekaligus memberikan multiplier effect ekonomi di Indonesia (Sumber: Website Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jatim). Namun, disela-sela kegembiraan tersebut ada satu harapan yang lebih besar yakni meraih kemenangan di hari raya yang disebut Idul Fitri.
        Idul Fitri yang artinya Hari Raya Fitri pada dasarnya adalah saat dimana manusia dikembalikan dalam keadaan fitroh (tanpa dosa) setelah mengalami proses “peleburan” dosa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dimana manusia pada saat itu bagaikan bayi yang baru lahir yang memegang sebuah “Primordial Agreement” (Perjanjian Primordial) antara makhluq dengan Sang Khaliq sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Alqur’an: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)". (al-A’raf  7 :172)
        Namun, tidak semua orang mendapat fasilitas ”peleburan” dosa semacam itu, karena ada banyak orang yang melakukan amal ibadah dibulan Ramadhan namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga serta rasa capek saja, sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dalam sebuah hadist:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang sholat di tengah malam tidak mendapatkan apa-apa selain letih” (HR. Nasa’i). Nah Tentu saja, hanya orang-orang yang sungguh-sungguh atas dasar iman dan ikhlas karena Allah SWT dalam melaksanakan berbagai amalan selama bulan Ramadhan yang akan mendapatkan pengampunan sebagaimana Rasulullah SAW Sampaikan: "Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang." (HR.Bukhari dan Muslim).  Selain itu juga dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu".
        Sungguh beruntung orang yang pada hari itu telah mendapat ampunan dari Allah SWT atas amal usahanya sebulan lamanya dalam menahan hawa nafsu guna memenuhi panggilan-Nya. Tidak hanya itu, ada keutamaan lain yang diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan dibulan ramadhan, yakni syafaat pada hari kiamat kelak. Rasulullah.saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',”(HR Ahmad)
       
        Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita mendapatkan kemenangan yang hakiki di hari raya fitri terebut, antara lain:
1.         Raja’, berharap hanya kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dosa-dosa kita yang telah lalu diampuni dan berharap agar kita dipertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang.
2.         Muhasabah, melakukan evaluasi diri terhadap segala amal yang telah kita kerjakan selama bulan Ramadhan, sudahkan sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya. Berapa banyak amal yang kita lakukan namun sia-sia.
3.         Istiqomah, mempertahankan dan meningkatkan amal yang telah kita lakukan selama ramadhan

Saturday, July 30, 2011

Semangat IDUL FITRI, Sebagai Titik Tolak Perbaikan Diri

Sudah menjadi kodrat (karakter fitriyah) manusia bahwa ia senantiasa ingin menjadi lebih baik. Tidak satupun manusia yang waras akal sehatnya jika ditanya kelak ingin bahagia (sukses) atau celaka lantas kemudian menjawab ingin celaka (sengsara) atau misalnya bila ditanya apakah kelak ingin masuk surga atau neraka lalu menjawab ingin masuk neraka. Hanya iblis dan kawan-kawannya yang merelakan waktu sepanjang hayatnya untuk ditukar dengan kesengsaraan dengan masuk neraka di hari akhir kelak, naudzubillahi mindzalik !!.
Oleh karena itu, seorang muslim/musilmah seyogyanya memiliki target-target hidup yang jelas untuk meraih kesuksesan, baik sukses hidup didunia terlebih lagi sukses di akherat kelak. Target tersebut dapat bersifat jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Sangat menarik sekali ketika ternyata sejak beberapa abad yang lalu Rasulullah SAW telah secara implisit menanamkan sebuah konsep motivasi bagi kaum muslimin untuk meraih target baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.'' (HR Dailami).  Demikian pula sholat sebagai salah satu washilah pertolongan untuk meraih kesuksesan (QS 2: 45, 153) memberikan fadhilah yang dapat membersihkan dari “dosa” (dalam konteks kehidupan sebagai penyebab kegagalan, lihat QS 20:14, 124) antara jumat ke jumat (sebagai target mingguan) dan antara ramadhan ke ramadhan (target tahunan) sebagaimana termaktub dalam HR Muslim “shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar”.
        Idul fitri merupakan kondisi dimana ketika ramadhan manusia mengalami penggemblengan diri untuk menjadi orang yang memiliki modal suskes jangka tahunan, lalu kemudian memasuki sebuah fasa baru yang disebut kembali ke fitroh (karena dosa-dosa yang lalu telah diampuni oleh Allah SWT) sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan: "Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang." (HR.Bukhari dan Muslim) sebagai titik tolak perubahan guna meraih sukses jangka panjang yang lebih hakiki yakni taqwa (sebagaimana ditetapkannya tujuan puasa bagi orang-orang yang beriman, yakni agar bertaqwa (QS 2:183), sekarang hingga akhir hayat. Karena tidak mungkin target taqwa yang dimasud disini adalah taqwa yang temporal hanya saat puasa saja, tapi melainkan taqwa yang istiqomah hingga akhir hayat, bahkan kita “dilarang mati” keduali dalam keadaan “berserah diri” atau dengan bahasa yang lebih tepat “memegang teguh ketaqwaan” tersebut (QS. Ali Imran: 102)). Dengan demikian semangat idul fitri ini akan menghantarkan manusia pada milestone baru untuk kedepannya bisa membuat tren perbaikan diri menjadi meningkat.
Alangkah sia-sianya, ketika seseorang telah meraih modal kesuksesan jangka pendek kemudian modal itu habis ditengah jalan sehingga harus mengulangi lagi, begitu dan begitu terus tiap tahunnya, sehingga tidak memiliki tren investasi modal yang meningkat guna mencapai kesuksesan jangka panjang.
        Demikian halnya dengan kebiasaan kita ketika menghadapi Idul Fitri, betapa sia-sianya setelah satu bulan penuh kita menggembleng diri, menahan lapar dan dahaga, menahan kantuk, mengabaikan rasa letih dan capek guna melaksanakan ibadah bulan romadhon hingga kemudian meraih kemenangan di hari raya fitri. Tapi, pasca idul fitri kita kembali mengalami kemerosotan amal, kehilangan istiqomah, lebih bahaya lagi kita kehilangan semangat untuk berdakwah dan kemerosotan akhlaq serta akidah, naudzubillah.
Ada beberapa pertanyaan yang mungkin dapat kita renungkan ketika telah sukses melewati bulan ramadhan dan memasuki idul fitri: DIMANA SHOLAT LAIL KITA?, DIMANA TADARRUS KITA? DIMANA AMAL JARIAH KITA? DIMANA SENYUM dan KEMAMPUAN KITA MENAHAN AMARAH? Yang telah kita pupuk selama ramadhan?? Seolah olah mereka tiba-tiba pergi begitu saja, kita jadi malas lagi tadarrus, kita jadi ogah lagi sholat lail, kita jadi enggan lagi bershodaqoh, kita jadi susah senyum dan mudah marah lagi (meskipun dalam konteks kehidupan kita, hal ini tidaklah naif-naif amat, karena sifat fitriyah manusia juga yang mengalami peningkatan dan penurunan keimanan, dan setidaknya kita juga telah beruntung telah mendapatkan pengampunan Allah, apalagi jika mendapatkan lailatul qadar, kita telah mendapatkan tabungan amal hingga 83,3 tahun kedepan, tapi apakah itu esensinya??). Seharusnya tidak demikian, sebagaimana yang Rasulluah pesankan, secara implisit kita harus memiliki target-target tahunan, dimana tahun ini harus lebih baik dari tahun yang lalu dan seterusnya. Sehingga tidak terjadi pengulangan dan bahkan stagnasi amal. Model seperti ini disindir oleh Allah SWT dengan gaya bahasa yang luar biasa didalam Alqur’an surat An-nahl 92 ”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...”. Lalu kemudian ia memulailah lagi untuk memintal benangnya dan diurai lagi dan seterusnya. Kapan akan terbentuk kain pintalan yang indah?? Semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan kesalahan kita, dan kita dapat segera menyelesaikan pintalan itu dengan sebaik baiknya tidak seperti wanita yang digambarkan dalam surat An-Nahl tersebut. Karenanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita mendapatkan kemenangan yang hakiki di hari raya fitri terebut, antara lain:
  1. Raja’, berharap hanya kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dosa-dosa kita yang telah lalu diampuni dan berharap agar kita dipertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang.
  2. Muhasabah, melakukan evaluasi diri terhadap segala amal yang telah kita kerjakan selama bulan Ramadhan, sudahkah sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya. Berapa banyak amal yang kita lakukan namun sia-sia.        
  3. Istiqomah, mempertahankan amal yang telah kita lakukan selama ramadhan dan meningkatkannya pasca ramadhan yang dimulai sejak Idul Fitri sebagai titik tolaknya.


Wallahu a’lamu bish-showab.